Senin, 25 September 2017

WWF: masyarakat Adat jaga habitat burung Cenderawasih

id WWF: masyarakat Adat jaga habitat burung Cenderawasih
pengetahuan lingkungan di masyarakat adat yang wilayahnya hidup habitat burung Cenderawasih mulai meningkat karena munculnya kesadaran warga akan kekhawatiran ancaman kepunahan
Biak (Antara Papua) - WWF Perwakilan Papua mengajak masyarakat adat di daerah tersebut menjaga habitat burung emas Cenderawasih di wilayah kepulauan Yapen dan Kabupaten Jayapura untuk mencegah populasi burung spesies Papua dari ancaman kepunahan.

"WWF membantu masyarakat adat setempat mengembangkan edukasi wisata melihat burung Cenderawasih sehingga memberikan pemasukan bagi penduduk lokal,"kata Koordinator Northern New Guinea Leader WWF Indonesia Papua Piter Roki Aloisius di Biak, Senin.

Piter mengatakan, dengan dilakukan perlindungan pada wilayah kehidupan burung Cenderawasih maka dapat menjaga pelestarian burung khas Papua itu dari kepunahan.

Ia mengatakan, pengetahuan lingkungan di masyarakat adat yang wilayahnya hidup habitat burung Cenderawasih mulai meningkat karena munculnya kesadaran warga akan kekhawatiran ancaman kepunahan burung khas tanah Papua itu.

"Kehidupan areal burung Cenderawasih yang masih tersedia harus dijaga karena ini merupakan aset kekayaan masyarakat lokal yang sangat mahal," ujar Piter Roki.

Keaslian habitat tempat hidup burung yang dilindungi itu yang masih tersedia, menurut Piter, perlu dirawat dan dikembangkan menjadi edukasi wisata alam yang khas di tanah Papua.

WWF sebagai organisasi non pemerintah, menurut Piter, terus mengembangkan pendidika berkelanjutan melalui pendekatan budaya lokal dalam rangka menanamkan kepedulian warga untuk menjaga keaslian lingkungan tanah Papua.

"Pendidikan pembangunan berkelanjutan mendorong akan kecintaan masyarakat lokal untuk melestarikan keanekaragaman hayati yang dimiliki tanah Papua," demikian Piter Roki Alosius.

Berdasarkan data burung Cenderawasih merupakan burung khas asli tanah Papua yang saat ini sebagai hewan yang dilindungi dan dilarang untuk ditangkap serta dilarang diawetkan menjadi asesoris penutup kepala.(*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga