Minggu, 24 September 2017

Optimisme Papua dalam menyukseskan PON 2020

id Optimisme Papua dalam menyukseskan PON 2020
Optimisme Papua dalam menyukseskan PON 2020
Gubernur Papua Lukas Enembe ketika berpose bersama Forkompinda di lokasi pembangunan stadion utama Kampung Harapan untuk PON XX pada 2020, pada Selasa (18/4) (Foto: Antara Papua/Hendrina Dian Kandipi)
Karena itu, para bupati, tokoh politik, siapa saja berhenti bicara pesimis, pasalnya kapan lagi dapat menjadi tuan rumah, mungkin 100 tahun ke depan sehingga diminta berhenti bicara tidak akan jadi, namun sebaliknya PON akan terlaksana di Papua
Tiga tahun lagi Papua akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX pada 2020, pesta olahraga akbar di Tanah Air yang akan melibatkan 33 provinsi.

Sejak Papua ditetapkan menjadi tuan rumah PON 2020, beragam pendapat mencuat termasuk penilaian bernada pesimis baik dari dalam maupun luar Bumi Cenderawasih (nama lain untuk Provinsi Papua).

Namun, semangat untuk menyukseskan event olahraga tersebut tak menyurutkan niat Gubernur Papua Lukas Enembe bersama jajarannya.

Sedikit demi sedikit, persiapan untuk mengawali sukses penyelenggaraan PON XX pun dilakukan, dari pembangunan hingga rehabilitasi beragam venue di lima wilayah adat.

Kondisi geografis Papua yang sulit dijangkau juga bukan hambatan dan halangan untuk dapat menghias mimpi provinsi paling timur di Indonesia itu untuk menggelar PON.

Gubernur Lukas kemudian meminta para pihak yang ragu dan pesimistis PON XX dapat diselenggarakan di Bumi Cenderawasih, agar berhenti berkomentar, dan mulai turut serta berpartisipasi agar iven ini sukses.

"Karena itu, para bupati, tokoh politik, siapa saja berhenti bicara pesimis, pasalnya kapan lagi dapat menjadi tuan rumah, mungkin 100 tahun ke depan sehingga diminta berhenti bicara tidak akan jadi, namun sebaliknya PON akan terlaksana di Papua," katanya.

Kepercayaan dari pemerintah pusat untuk menggelar PON di Papua, merupakan momentum yang monumental, sehingga kepercayaan ini harus disambut baik oleh semua pihak di Papua.

Karenanya, Lukas meminta semua pihak di Papua untuk meninggalkan pikiran pesimis dan turut bergabung bersama pemerintah provinsi membangun fasilitas PON.

"Saya katakan ini waktu yang paling tepat untuk menggelar PON, karena sejak Indonesia merdeka pada 1945, baru kali ini Papua akan menggelar PON, apalagi selama ini Papua hanya menjadi penyumbang atlet dan bertengger pada peringkat lima, enam dan tujuh," ujarnya.

Maka, kepercayaan Papua menjadi tuan rumah PON 2020 harus disyukuri karena untuk menjadi tuan rumah tidak sederhana, tidak gampang, serta harus bersaing dengan 33 provinsi di seluruh Indonesia.

"Untuk membangun seluruh fasilitas dalam mendukung penyelenggaraan PON di Papua, dibutuhkan biaya yang tak sedikit, termasuk akomodasi serta persiapan pembangunan venue-venue," katanya lagi.

Oleh karena itu, Gubernur Lukas Enembe merasa perlu meminta dukungan doa seluruh masyarakat Papua, termasuk para tua-tua adat agar setiap rencana yang dijalankan pemerintah provinsi, boleh terlaksana sebagaimana mestinya.

Dukungan Adat

Adat menjadi salah satu faktor penentu dalam pembangunan di Provinsi Papua, demikian pula dalam proses penyelenggaraan PON XX pada 2020..

Untuk itu, dalam pembangunan salah satu venue PON di Kabupaten Jayapura, Pemprov Papua pun menggelar ibadah syukur yang disisipi dengan penyerahan hewan ternak babi dan sapi kepada perwakilan suku pemilik hak ulayat tanah.

Pemilik hak ulayat tanah ini merupakan suku-suku yang lahannya digunakan untuk lokasi pembangunan venue PON berupa stadion utama, yakni marga Wally, Ohee, Ansaka, dan Deda.

Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi Papua Yusuf Yambe Yabdi mengatakan dalam pertemuannya dengan pihak adat di Kabupaten Jayapura sebelumnya dikumpulkan beberapa aspirasi.

"Dalam konsolidasi eksternal sudah melakukan rapat dengan ondoafi atau kepala suku dari marga Ohee, Wally dan beberapa lainnya," katanya.

Dari hasil pertemuan itu, ada beberapa aspirasi yang sudah disampaikan dan paling menonjol adalah keterlibatan anak muda di dalam proyek besar PON ini sebagai tenaga kerja.

Yusuf pun mengharapkan semua elemen adat dapat mendukung suksesnya penyelenggaraan PON di Papua.

Terdapat beberapa kluster pelaksanaan PON 2020 yakni di Kabupaten Jayapura, Mimika, Biak, Merauke dan Kota Jayapura dan wilayah-wilayah ini tersebar dalam lima wilayah adat.

Kelima wilayah adat tersebut yakni Lapago, Meepago, Animha, Saireri dan Mamta.

Setelah menyelesaikan secara adat untuk lokasi pembangunan venue PON seperti di Kabupaten Jayapura, terdapat kebijakan dari Pemprov Papua untuk material lokal yang digunakan menimbun lahan venue diharapkan bisa mengambil dari sekitar Distrik Sentani Timur pada kabupaten setempat.

Selain itu, jika permasalahan dengan adat selesai, pembangunan Stadion Utama Papua Bangkit di Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura akan dilaksanakan dalam dua tahapan karena jenisnya rancang bangun.

"Biasanya kami akan rancang dulu, baru setahun kemudian dibangun, akan tetapi ini rancangan dan pembangunan berjalan bersamaan," ujar Yusuf.

Oleh sebab itu tahapan yang dipersiapkan adalah tahapan desain kini sedang dimulai, di mana hal pertama yang dilakukan adalah pra desain yakni konsolidasi lahan untuk menentukan melakukan "catten field" juga finalisasi desain dasar, finalisasi elemen struktur dan infrastruktur.

"Tahapan yang sekarang lagi kami lakukan adalah pengembangan desain yaitu arsitek, sipil, menchanical elektrical, phampling dan juga infrastruktur untuk bersama melakukan rapat konsolidasi secara berulang-ulang," katanya.

Nantinya desain yang dikeluarkan arsitek akomodatif terhadap kepentingan struktur "mechanical elektrical" dan "clumbing" serta juga untuk infrastruktur.

Nantinya, kata Yusuf,  pihaknya akan membuat gambar kerja untuk dimulai oleh pengusaha PT PP (Persero) Tbk. Di mana hal ini terkait dengan proses desain.

Dia menambahkan jika urusan adat dapat diselesaikan dengan baik, maka proses selanjutnya dapat dilakukan dengan baik pula.

Pasalnya, di Papua terdapat tiga tungku yang harus bersinergi yakni tungku agama, adat dan pemerintah.

Pelengkap PON
Gubernur Papua Lukas Enembe selain menginginkan suksesnya penyelenggaraan PON, juga berharap para tamu, peserta dan rombongan atlet dapat membawa pulang kenang-kenangan dari Bumi Cenderawasih.

Tidak hanya berupa barang, namun panorama, keindahan serta keramahtamahan masyarakat Papua diharapkan dapat menjadi buah tangan yang selalu diingat oleh siapa saja yang menginjakkan kaki di Bumi Cenderawasih.

"Kami sudah membuat draf mengenai pembuatan imitasi burung cenderawasih agar nanti ketika PON diselenggarakan, banyak tamu bisa membeli dan membawanya pulang sebagai kenang-kenangan," kata Lukas Enembe.

Mantan Bupati Puncak Jaya ini juga meminta masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Papua untuk mensinergikan program dan kegiatannya dengan pelaksanaan PON XX pada 2020.

Senada dengan Lukas, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua Max Olua mengatakan pihaknya tengah mendorong pemberian pelatihan bagi sumber daya manusia Bumi Cenderawasih.

Menurut Max, dengan diberi pelatihan ini, sumber daya manusia dapat berkreasi sehingga membuka lapangan kerja baru, di mana hasil kreasinya dapat dijadikan oleh-oleh bagi para tamu yang datang ke Papua.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala Dinas Peternakan Provinsi Papua Petrus Pasereng, pihaknya telah mempersiapkan program untuk memenuhi kebutuhan daging hingga pelaksanaan PON XX pada 2020.

"Jadi semenjak Gubernur Papua Lukas Enembe menerima bendera PON, kami sudah merancang sejumlah program yang dapat mewujudkan Papua mampu berswasembada daging," kata Petrus.

Petrus menuturkan dengan dapat berswasembada daging, maka ketika PON dilaksanakan di Papua, kebutuhan daging para atlet dan rombongannya dapat dipenuhi tanpa harus mendatangkan dari luar Bumi Cenderawasih.

Pada intinya, selain dapat menikmati penyelenggaraan PON di Papua, atlet dan rombongan juga dapat melihat keunikan Bumi Cenderawasih dari sisi lainnya, baik kuliner, cinderamata, keindahan alam yang menjadi objek wisata hingga keramahan masyarakat.  (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga