Era kebangkitan "Kartini" Papua

id Era kebangkitan "Kartini" Papua
Era kebangkitan
Perempuan Papua (Foto: Antara Papua/Hendrina Dian Kandipi)
Untuk pertama kalinya di Papua, seorang penjabat bupati adalah seorang perempuan yakni Ribka Haluk di Kabupaten Mappi
Sejak dulu sosok Kartini dikenal melalui figur wanita ayu bersanggul apik dengan busana kebaya.

Dengan berjalannya waktu, dari tiap provinsi di Indonesia mulai muncul sosok "Kartini" baru melalui versinya masing-masing.

Sebut saja di Aceh ada Cut Nyak Dien, seorang pahlawan nasional Indonesia yang berjuang melawan Belanda pada masa perang.

Berkaca dari kisah tersebut, dalam beberapa tahun belakangan ini juga mulai bermunculan "Kartini-Kartini" di Provinsi Papua.

Perempuan-perempuan asli Bumi Cenderawasih ini mulai tampak pada perkumpulan-perkumpulan, organisasi, lembaga swadaya masyarakat hingga jajaran birokrasi pemerintah.

Para perempuan asli Papua ini mulai menduduki jabatan-jabatan rendah seperti kepala-kepala bagian (kabag) di dinas-dinas atau instansi pemerintahan hingga yang paling tinggi seperti penjabat bupati.

"Untuk pertama kalinya di Papua, seorang penjabat bupati adalah seorang perempuan yakni Ribka Haluk di Kabupaten Mappi," kata Gubernur Papua Lukas Enembe.

Bagi Lukas, hal ini merupakan prestasi dan kebanggaan pihaknya. Pasalnya, ini membuktikan bahwa perempuan itu mampu sejajar dengan laki-laki.

Meskipun hanya menjabat sebagai penjabat bupati selama beberapa bulan saja, namun hal ini sungguh luar biasa mengingat di Papua khususnya di "para-para adat", perempuan tidak memiliki hak yang sama dengan laki-laki.

"Saya berharap seorang Ribka Haluk dapat menjalankan kepemimpinan di Kabupaten Mappi tidak kalah dengan laki-laki," ujarnya.

Pasalnya, dengan kepemimpinan seorang Ribka Haluk di Kabupaten Mappi selaku penjabat bupati merupakan sejarah tersendiri bagi pemerintahan di masa Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Lukas Enembe-Klemen Tinal.

"Baru pertama di pemerintahan kami, saya melantik seorang putri, ibu, perempuan menjadi seorang kepala daerah, meskipun bersifat sementara namun sudah cukup mengukir prestasi," katanya lagi.

Diharapkan sosok Ribka Haluk dapat menjalankan tugas dan kewajiban kepala daerah di Kabupaten Mappi layaknya yang dilakukan oleh seorang laki-laki.

Martabat Perempuan
Langkah Gubernur Papua Lukas Enembe melantik seorang perempuan menjadi penjabat bupati di Kabupaten Mappi patut diacungi jempol, bahkan tak sedikit yang memberikan apresiasinya.

Menjadikan sosok Ribka Haluk sebagai penjabat bupati menyetarakan kedudukan perempuan dengan laki-laki di provinsi paling timur Indonesia ini.

"Saya sangat mengapresiasi Gubernur Papua Lukas Enembe karena telah mengangkat harkat dan martabat perempuan di Bumi Cenderawasih," kata Penjabat Bupati Mappi Ribka Haluk.

Selama ini, perempuan di Papua selalu menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, baik akibat minuman beralkohol, maupun dampak dari implementasi ketetapan adat istiadat.

Namun, khususnya bagi perempuan-perempuan asli Bumi Cenderawasih ini, fenomena tersebut tak mengurungkan niatnya untuk tetap maju dan menjadi yang terdepan.

Terbukti, mulai dari keanggotaan di Dewan Perwakilan Rakyat baik di tingkat provinsi maupun daerah, sudah banyak perempuan Papua yang duduk.

Dalam bidang lainnya juga, perempuan Papua tidak kalah saing, seperti misalnya Octaviyanti Blandina Ronsumbre seorang pilot PT. Trigana Air Service sejak 2011.

Menurut Ribka, Lukas Enembe adalah salah satu gubernur yang prihatin terhadap sumber daya manusia di Papua sehingga memberikan porsi yang cukup besar bagi perempuan untuk mengenyam baik pendidikan maupun pengalaman di bidangnya masing-masing.

Ribka Haluk sendiri resmi menjabat sebagai Penjabat Bupati Mappi menggantikan pejabat lama Stefanus Kaisma yang telah habis masa jabatannya dan dilantik secara langsung oleh Gubernur Papua Lukas Enembe pada 11 April 2017.

Gubernur Lukas mengatakan sebagai penjabat bupati haruslah senantiasa menjaga dan mampu mengendalikan situasi keamanan serta ketertiban di daerah.

"Kami mengharapkan agar penjabat bupati dapat menjaga kondisi keamanan agar tetap aman dan kondusif dalam rangka mendukung tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan di Kabupaten Mappi," katanya.

Penjabat kepala daerah sebagai penjabat publik tentu kewenangan yang dimiliki berbeda dengan penjabat publik (kepala daerah) definitif, karena berbeda dalam cara memperoleh kewenangan sehingga masa jabatannya pun bersifat sementara.

"Penjabat Bupati Mappi yang baru bertugas melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Mappi sampai dilantiknya bupati dan wakil bupati yang definitif," ujarnya.

Penjabat bupati atau pelaksana tugas kepala daerah dilarang melakukan mutasi pegawai, membatalkan perizinan yang telah dikeluarkan pejabat sebelumnya dan atau mengeluarkan perizinan bertentangan dengan yang dikeluarkan pejabat sebelumnya.

"Tak hanya itu, penjabat bupati juga dilarang membuat kebijakan tentang pemekaran daerah yang bertentangan dengan kebijakan penjabat sebelumnya," katanya lagi.

Ribka Haluk yang sementara ini masih menjabat juga sebagai Kepala Dinas Sosial, Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Papua ini berharap langkah strategis yang diambil oleh Gubernur Lukas Enembe tersebut dapat diteruskan di waktu yang akan datang.

Terima Tantangan
Selain Ribka Haluk, masih ada sosok Aneke Rawar seorang Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Papua pada kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Lukas Enembe-Klemen Tinal.

Menduduki jabatan pada instansi yang berkecimpung mengenai persoalan perempuan menjadikannya lebih bermotivasi agar kaum hawa dapat lebih membuka diri menerima tantangan untuk perubahan ke depan.

Kartini zaman sekarang tidak harus berkecimpung dalam dunia pendidikan saja, berbagai bidang siap menyambut kaum hawa ini, tinggal tergantung bagaimana menanggapinya.

"Perempuan Papua harus semangat dengan kemampuan yang sudah diberikan oleh Tuhan untuk bekerja di bidangnya masing-masing," kata Aneke Rawar.

Perempuan khususnya di Papua kini tidak harus berada di belakang sosok laki-laki, atau bahkan bersembunyi di belakang meja.

Sudah saatnya, perempuan Papua tampil ke depan dan menunjukkan bahwa persamaan gender yang dielu-elukan bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan bersama.

"Banggalah menjadi sosok perempuan, karena kini terbuka luas kesempatan menjadi sama dengan laki-laki," ujarnya.

Hanya saja, tambah Aneke, perempuan tidak boleh lupa akan kodratnya dalam rumah tangga.

Di mana tugas dan kewajibannya mendidik anak-anak serta melayani suami selaku pendamping hidup.

"Ketika menerima tantangan untuk lebih berkarya, perempuan tidak boleh takut, namun juga tidak boleh lupa akan kodratnya," katanya lagi.

Bagi generasi muda, khususnya para hawa, persiapkanlah mental dan fisik sejak dini sehingga nantinya ketika tiba waktunya menjadi "Kartini" dalam bidangnya masing-masing, semua potensi yang dimiliki dapat dipergunakan secara maksimal. (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga