Minggu, 24 September 2017

Transportasi udara jadi pilihan utama perantau di Papua

id Lipsus - Transportasi udara jadi pilihan perantau di Papua
Transportasi udara jadi pilihan utama perantau di Papua
Bandara Frans Kaisiepo, di Biak Numfor, Papua. (Foto: Istimewa)
Merayakan hari lebaran berkumpul bersama keluarga menjadi sebuah tradisi tahunan. Ya ini program tahunan rutin dilakukan perantauan meski harus naik pesawat mengeluarkan biaya mahal
Menggunakan moda transportasi udara menjadi pilihan utama bagi warga perantau di wilayah Papua demi menjalankan tradisi mudik lebaran menuju kampung halaman di Pulau Sumatera, Jawa dan Sulawesi hingga Jakarta.

Meski harga tiket pesawat udara ke berbagai kota tujuan di Pulau Sumatera, Jawa dan Sulawesi melonjak tinggi sejak memasuki masa arus mudik lebaran H-14, tetapi tetap saja animo warga perantauan untuk pulang kampung menggunakan pesawat udara tetap membutuhkan tiket pesawat udara di agen penjualan setempat.

Tradisi mudik lebaran bagi warga perantauan yang bekerja di wilayah paling timur Indonesia Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat merupakan sesuatu yang rutin dilakukan setiap tahun. Ini karena mereka ingin merayakan hari raya bersama keluarga, kerabat, sanak famili dan tetangga yang akan menjadi kenangan manis para pemudik di perantauan.

"Merayakan hari lebaran berkumpul bersama keluarga menjadi sebuah tradisi tahunan. Ya ini program tahunan rutin dilakukan perantauan meski harus naik pesawat mengeluarkan biaya mahal," ungkap Warno, warga perantauan yang mudik ke Yogyakarta dengan pesawat di Bandara Biak.

Ia mengakui, pilihan untuk setiap warga perantauan di Papua dan Papua Barat yang akan mudik lebaran ke kampung halaman hanya dua opsi transportasi yakni menggunakan pesawat udara dan kapal laut.

Untuk transportasi udara, lanjut Warno, biaya yang dikeluarkan sangat mahal mencapai belasan juta rupiah guna membeli tiket pulang menuju kampung halaman untuk dua orang penumpang pesawat hingga kembali lagi ke tanah perantauan.

Kelebihan menggunakan pesawat udara, lanjutnya, meski biaya yang dikeluarkan sangat mahal namun waktu tempuh menuju kampung halaman dapat lebih cepat dibanding menggunakan kapal laut memakan waktu enam hingga tujuh hari.

"Untuk warga perantauan mudik lebaran dengan pesawat udara sebagai kebutuhan walaupun membeli tiketnya sangat mahal dibanding menggunakan kapal laut," ungkap pemudik tujuan Yogyakarta itu.

Data diperoleh Antara untuk harga tiket pesawat udara tujuan Biak-Makassar menjelang hari raya lebaran melonjak berkisar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta dibanding hari biasanya sebesar Rp1,5 juta hingga Rp1,8 juta/penumpang.

Sedangkan harga tiket pesawat udara tujuan Biak-Surabaya mencapai Rp2,7 jutaan/penumpang dibanding sebelumnya Rp1,9 juta hingga Rp2,2 juta/penumpang.

Untuk harga tiket tujuan Biak-Jakarta menjelang lebaran Idul Fitri naik mencapai Rp4 juta hingga Rp5 jutaan/penumpang dibanding sebelumnya Rp2,7 hingga Rp3 jutaan/penumpang.

Bandara Biak Siaga 24 Jam
Manajemen Bandara Internasional Frans Kaisiepo Biak yang dikelola oleh PT Angkas Pura 1 sebagai pengendali pusat informasi wilayah IX Papua dan Papua Barat sejak H-10 lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah telah menyiagakan petugas teknik penerbangan selama 24 jam.

General Manager PT Angkasa Pura 1 (Persero) Bandara Frans Kaisiepo, Minggus ET Gandeguai mengatakan, bandara internasional itu merupakan bandar udara tempat pilihan transit saat penerbangan menghadapi keadaan cuaca buruk atau kejadian gangguan mesin pesawat ketika terbang.

"Sebagai bandara transit di Papua dan Papua Barat kami harus 24 jam menyiapkan petugas teknik penerbangan dalam rangka mendukung kenyamanan dan keamanan selama arus mudik lebaran 1438 Hijriah," katanya.

Minggus mengatakan, pelayanan penerbangan internasional di Bandara Frans Kaisiepo Biak tidak hanya untuk penerbangan pesawat berbadan lebar seperti halnya Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air tetapi juga penerbangan perintis antarkota di Papua yakni Trigana Air, Susi Air dan ATR Garuda.

Ia mengatakan, setiap hari selama arus mudik lebaran penumpang pesawat udara di Bandara Frans Kaisiepo mencapai 800-900 penumpang yang tiba dan berangkat dengan dua penerbangan Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air.

Tujuan arus mudik penumpang pesawat udara dari Bandara Frans Kaisiepo, lanjut Minggus, terbanyak ke Makassar, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta serta beberapa daerah di Pulau Sumatera.

"Penggunaan angkutan pesawat udara bagi pemudik warga perantauan pulang ke kampung halaman sudah sebuah pilihan, ya disamping waktunya cepat dan sesuai jadwal keberangkatan setiap harinya," ungkap Minggus Gandeguai.

Dia menambahkan, untuk memberikan pelayanan penumpan pesawat udara selama arus mudik lebaran pihak manajemen PT Angkasa Pura 1 Biak telah menyediakan fasilitas publik yakni membuka posko terpadu angkutan lebaran.

Kemudian menyediakan peralatan pemeriksaan kendaraan dan penumpang, mengantisipasi kursi ruang tunggu dan ruang pengantar penumpang serta menyediakan layanan internet gratis free Wi-Fi.

Sebagai otoritas pengelola bandara internasional Frans Kaisiepo Biak, lanjut Minggus, ia akan siaga 24 jam untuk pelayanan arus mudik lebaran karena kebutuhan angkutan pesawat udara menjelang lebaran kian meningkat.

"Untuk komplain setiap penumpang pesawat udara selama arus mudik lebaran kami membuka posko terpadu, ya ada ketidakpuasan penumpang terhadap layanan penerbangan di Bandara Frans Kaisiepo silakan melapor ke posko terpadu," ujar GM PT Angkasa Pura 1 Bandara Biak Mingus Gandeguai.

Prioritaskan Layanan Mudik
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Biak Otto P Wainggai mengingatkan, pengelola jasa angkutan umum seperti pesawat udara, kapal dan bus angkutan perdesaan yang beroperasi di Kabupaten Biak Numfor diminta memprioritaskan layanan angkutan mudik lebaran dengan profesional.

"Peningkatan kualitas pelayanan arus mudik di area pelabuhan, bandara dan terminal harus memenuhi standar, ya ini agenda tahunan yang berlaku secara nasional di seluruh kabupaten/kota di Indonesia," ungkapnya.

Dinas Perhubungan akan meningkatkan pengawasan terhadap layanan angkutan lebaran di Kabupaten Biak Numfor karena hal itu telah menjadi kebijakan Kementerian Perhubugan Repubik Indonesia.

Untuk layanan angkutan mudik menggunakan pesawat udara, setiap hari dilayani dua penerbangan yakni Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air dengan waktu keberagkatan satu kali setiap hari melalui Bandara Internasional Frans Kaisiepo Biak.

Sedangkan layanan mudik menggunakan kapal laut, lanjutnya, setiap dua minggu sekali KM Sinabung dan KM Ciremay tujuan Biak-Manowkari-Sorong-Ternate, Bitung, Baubau, Makassar-Surabaya dan Jakarta melalui pelabuhan laut Biak.

Sedangkan layanan kapal perintis Fery Indonesia ASDP untuk tujuan Biak-Pulau Numfor, Biak-Waropen-Serui dan Nabire.

"Mudik lebaran bagi warga perantauan di Kabupaten Biak Numfor untuk berangkat menuju kampung halaman hanya menggunakan jasa pesawat udara dan kapal laut, ya ini setiap tahun rutin disediakan pemerintah melalui operator penerbangan dan jasa angkutan kapal laut," ujarnya.

Menyinggung penambahan ekstra penerbangan Bandara Biak, menurut Otto Wainggai, hingga saat ini belum ada informasi dari pihak penerbangan maupun PT Angkasa Pura 1 Bandara Biak.

"Sampai sekarang layanan arus mudik lebaran pesawat udara dan kapal laut masih normal sesuai jadwal keberangkatan," demikian Kadishub Otto Wainggai

Hingga H-8 lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah arus keberangkatan penumpang di Bandara Frans Kaisiepo Biak masih ramai lancar dengan penerbangan Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air tujuan Biak-Jayapura dan Biak-Makassar dan Jakarta. (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga