Sabtu, 22 Juli 2017

Yapeda Timika rekrut 90 penyuluh sebaya HIV-AIDS

id Yapeda Timika rekrut 90 penyuluh sebaya HIV-AIDS Mimika
Yapeda Timika rekrut 90 penyuluh sebaya HIV-AIDS
Direktur Yayasan Peduli AIDS (Yapeda) Timika Pastor Bert Hogendoorn OFM. (Foto: Antara Papua/Evarianus Supar)
Dengan melihat gejala yang ada, generasi muda terutama anak-anak usia sekolah di Mimika masih sangat potensial menjadi korban baru
Timika (Antara Papua) - Yayasan Peduli AIDS (Yapeda) Timika, Papua, merekrut 90 siswa SLTP hingga SLTA di wilayah itu guna dilatih menjadi penyuluh sebaya kasus HIV-AIDS.

Direktur Yapeda Timika Pastor Bert Hogendoorn OFM di Timika, Minggu, mengatakan sebanyak 30 siswa SMP telah dilatih sebagai penyuluh sebaya kasus HIV-AIDS pada awal Juli 2017.

Adapun 60 siswa SMA dan SMK akan dilatih menjadi penyuluh sebaya kasus HIV-AIDS mulai Senin (10/7) hingga Sabtu (15/7).

"Kami melibatkan para remaja terutama para siswa sekolah SMP hingga SMA menjadi penyuluh sebaya karena berdasarkan pengalaman bahwa informasi yang disampaikan melalui teman-teman mereka dalam lingkungan informal jauh lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan informasi yang disampaikan melalui jalur resmi," jelas Bert.

Para penyuluh sebaya yang nanti dilatih diharapkan berperan menjadi penyuluh dalam hal menangani sesama yang sudah terinfeksi kasus HI-AIDS maupun berpola hidup sehat agar terhindar dari infeksi penularan HIV-AIDSdi kalangan remaja sebaya mereka baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.

Pastor Bert mengatakan sejak awal berdiri pada akhir 1990-an, Yapeda fokus dalam hal mendidik generasi muda Timika maupun Mimika pada umumnya agar berjuang melawan infeksi penularan kasus HIV-AIDS.

Sejak 2003 hingga sekarang, katanya, para remaja yang telah dilatih oleh Yapeda menjadi penyuluh sebaya telah mencapai lebih dari 1.000 orang.

"Dulu yang kami latih awal-awal menjadi penyuluh sebaya sekarang sebagian besar sudah berumah tangga atau mereka kuliah di luar Timika. Tentu informasi yang mereka terima sangat penting menjadi bahan pengetahuan di kalangan masyarakat bagaimana upaya melawan epidemi HIV-AIDS," jelas Bert.

Puluhan siswa SLTP dan SLTA yang dilatih menjadi penyuluh sebaya tersebut juga diharapkan dapat menyebarluaskan informasi dan pengetahuan mereka dalam hal penanganan kasus HIV-AIDS di kalangan siswa baru di sekolah masing-masing pada ajang Masa Orientasi Sekolah (MOS) dalam waktu dekat.

Misionaris asal Belanda yang sudah puluhan tahun berkarya di Papua itu menilai penyebarluasan informasi dan pengetahuan tentang epidemi HIV-AIDS di kalangan generasi muda Timika dan Mimika pada umumnya masih sangat dibutuhkan.

Sebab dalam kurun waktu tiga tahun terakhir sejak 2014 hingga 2014, tercatat terjadi peningkatan kasus infeksi baru HIV-AIDS di kalangan generasi muda Mimika sebanyak lebih dari 400 kasus.

"Dengan melihat gejala yang ada, generasi muda terutama anak-anak usia sekolah di Mimika masih sangat potensial menjadi korban baru, apalagi penduduk baru terus masuk ke Timika dengan informasi dan pengetahuan yang kurang tentang bahaya epidemi HIV-AIDS," ujarnya.

Secara umum, kasus infeksi baru HIV-AIDS di Mimika dalam tiga tahun terakhir berjumlah lebih dari 1.200 kasus.

Adapun jumlah angka komulatif kasus HIV-AIDS di Mimika hingga pertengahan 2017 sejak pertama kali kasus ini ditemukan pada Wanita Pekerja Seks (WPS) di Kilometer 10 Kampung Kadun Jaya Mimika Timur pada 1998 sudah mencapai lebih dari 5.000 kasus.

Sebagian besar Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) di Mimika yang terinfeksi pada awal tahun 2000-an kini sudah meninggal dunia.

Yang memprihatinkan, tidak sedikit isteri atau suami dan anak-anak dari mereka yang terinfeksi HIV-AIDS pada awal tahun 2000-an kini juga dinyatakan positif terinfeksi kasus serupa. (*)

Editor: Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga