Senin, 21 Agustus 2017

Dinkes Papua sosialisasi pendistribusian kelambu antimalaria

id Dinkes Papua sosialisasi pendistribusian kelambu antimalaria, kesehatan
Dinkes Papua sosialisasi pendistribusian kelambu antimalaria
Sosialisasi kelambu antimalaria di Jayapura, Papua, Kamis (9/8) (Foto: Antara Papua/Musa Abubar)
Penyakit ini berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia dan berpengaruh terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu hamil maupun melahirkan, bayi dan balita
Jayapura (Antara Papua) - Dinas Kesehatan Provinsi Papua menyosialisasikan pekan pendistribusian kelambu antimalaria yang akan didistribusikan secara massal di provinsi tersebut tahun ini.

Pada Kamis pagi, sosialisasi berlangsung melibatkan masing-masing Dinas Kesehatan dari 28 kabupaten dan satu kota di Papua. Para pemangku kepentingan terkait lainnya juga diundang sebagai peserta dalam kegiatan tersebut.

Panitia juga mengundang pekerja pers dari masing-masing media massa baik media cetak maupun media elektronik sebagai peserta dalam momentum akbar itu.

Kepala Unit Pelaksana Teknis AIDS, TB dan Malaria (ATM) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Berri S Wopari mengatakan, malaria merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.

"Penyakit ini berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia dan berpengaruh terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu hamil maupun melahirkan, bayi dan balita," ujarnya.

Di Provinsi Papua, kata dia lagi, tingkat kesakitan malaria termasuk dalam tingkat endemisitas tinggi, dengan Annual Parasit Incidence (API) 49/1.000 penduduk.

Pada tingkat kabupaten/kota di Papua, endemisitas bervariasi. Dari 28 kabupaten dan satu kota yang ada, terdapat 20 kabupaten endemis sedang dan tinggi, tujuh kabupaten API enam sampai 22 persen di antaranya potensial mencapai pengendalian tahap pre-eliminasi.

Tujuh kabupaten API enam sampai 22 persen di antaranya potensial mencapai pengendalian tahap pre-eliminasi, yakni Kabupaten Paniai, Mamberamo Tengah, Jayawijaya, Mappi, Merauke, Intan Jaya, dan Kabupaten Biak Numfor.

Sedangkan 13 kabupaten masih berada pada pengendalian tahap akselerasi dengan API lebih dari 40 persen, yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Nabire, Kepulauan Yapen, Mimika, Bovendigul, Asmat, Sarmi, Waropen, Supiori, Mamberamo Raya, dan Kabupaten Keerom.

Dia menuturkan, salah satu cara untuk mengurangi faktor risiko penularan malaria adalah dengan pemakaian kelambu antinyamuk yang dibagikan kepada penduduk yang berdomisili di daerah endemis tinggi dan rendah yang masih terjadi penularan malaria.

"Secara nasional, terdapat dua jenis kegiatan distribusi kelambu yaitu program rutin dan program kampanye atau distribusi massal," ujarnya pula.

Ia menambahkan, program rutin adalah distribusi kelambu untuk ibu hamil dan pada bayi yang lengkap imunisasinya.

Sedangkan pekan kelambu massal adalah kegiatan pendistribusian kelambu antinyamuk kepada seluruh masayarakat yang berdomisili di daerah endemis malaria. (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga