Rabu, 20 September 2017

Kansilog Timika: Papua sudah seperti kampung sendiri

id Kansilog Timika: Papua sudah seperti kampung sendiri
Kansilog Timika: Papua sudah seperti kampung sendiri
Kepala Kantor Seksi Logistik (Kansilog) Timika Winarni (Foto: Antara Papua/Evarianus Supar)
Saya tidak pernah khawatir datang merantau di Papua. Kita harus yakin, dimana pun kita bertugas maka harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana kita tinggal
Situasi politik dan keamanan yang masih memanas pada era 1980-an membuat banyak orang takut merantau ke Papua (sebelumnya dikenal dengan nama Irian Jaya).

Tapi tidak demikian halnya dengan Winarni.

Setelah menamatkan pendidikan SMA di Sragen, Jawa Tengah pada 1983-1984, Winarni memutuskan merantau ke Jayapura pada 1984 mengikuti sang kakak yang bekerja di Kantor Wilayah Perhubungan Provinsi Irja.

Tak lama setelah bermukim di Jayapura, Winarni diterima bekerja di Kantor Divisi Regional (Divre) Badan Urusan Logistik/Bulog (sebelumnya disebut Dolog).

"Saya tidak pernah khawatir datang merantau di Papua. Kita harus yakin, dimana pun kita bertugas maka harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana kita tinggal," kata Winarni.

Perempuan kelahiran Sragen 23 Maret 1965 itu kini sudah 33 tahun bekerja sebagai karyawati Perum Bulog di Papua.

Isteri dari Slamet Riyadi itu beberapa kali dipercayakan oleh pimpinan menjabat kepala kantor seksi logistik di tiga tempat di Papua yaitu Wamena (14 bulan), dan Serui (sembilan bulan).

Sejak Desember 2016 hingga kini Winarni dipercayakan menjabat Kepala Kantor Seksi Logistik (Kansilog) Timika.

"Bertugas dimana pun pasti selalu ada tantangan dan keunikannya masing-masing. Selama kita mampu berkomunikasi dan berteman dengan siapa pun, maka seberat apa pun tugas dan tantangan yang kita hadapi pasti bisa dilalui dengan baik," tutur ibunda dari dua putra yaitu Yoga Widitama dan Yugo Faiz Riayada itu.

Maski berasal dari latar belakang suku Jawa,Winarni mengaku bisa menyesuaikan diri dengan rekan-rekannya yang berasal dari Papua. Ia tidak pernah merasa takut atau khawatir bersosialisasi dengan masyarakat Papua yang terkenal memiliki karakter sifat yang keras.

"Saya sudah merasa Papua seperti rumah dan kampung saya sendiri. Semua orang kita anggap seperti saudara dan keluarga. Tidak ada perbedaan antara orang asli Papua dengan pendatang. Semua seperti keluarga sendiri," tutur Winarni.

"Terpisah"
Meski suami dan anak-anak kini bermukim di Jember, Jawa Timur, Winarni tidak pernah meninggalkan tempat tugasnya di Papua.

"Saya baru bisa pulang ke Jawa kalau ada kesempatan dan tentu kalau ada uang. Soalnya biaya pulang ke Jawa juga cukup besar. Tapi terus terang, saya kurang betah di Jawa. Saya justru lebih betah tinggal di Papua karena saya merasa sudah jadi orang Papua," ujarnya.

Winarni berharap kehadiran Perum Bulog di berbagai daerah di Papua bisa memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat setempat baik melalui tugas-tugas pokok menyalurkan beras untk golongan anggaran seperti aparatur sipil negara (ASN), anggota TNI dan Polri serta program beras untuk masyarakat sejahtera (rastra) maupun dalam tugas-tugas perdagangan yang diemban Bulog melalui agen Rumah Pangan Kita/RPK. (*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga