Rabu, 20 September 2017

Lima orang meninggal akibat pertikaian antarmarga Yahukimo

id Lima orang meninggal karena pertikaian antarmarga Yahukimo, Papua, Polda
Lima orang meninggal akibat pertikaian antarmarga Yahukimo
Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba (Foto: Antara Papua/Marius Frisson Yewun)
Di Kampung Mugi, Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, itu terjadi pertikaian sehingga mengakibatkan tiga rumah habis terbakar, kemudian 5 orang korban meninggal. Satu dari suku Siep Asso, kemudian 4 dari suku Husage
Wamena (Antara Papua) - Lima orang warga meninggal dunia akibat pertikaian antarmarga di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua, pada Sabtu (9/9).

Kapolres Jayawijaya AKBP Yan Pieter Reba di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Selasa, mengatakan pertikaian itu terjadi antarmarga Siep Asso dan Husage.

"Di Kampung Mugi, Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, itu terjadi pertikaian sehingga mengakibatkan tiga rumah habis terbakar, kemudian 5 orang korban meninggal. Satu dari suku Siep Asso, kemudian 4 dari suku Husage," kata Yan.

Setelah menerima informasi tentang pertikaian, kapolres bersama 21 anggota polisi dari Polres Jayawijaya menuju Kurima namun akses jembatan yang menghubungkan distrik itu dengan Jayawijaya putus.

"Saya pimpin anggota dan menuju ke Kurima, namun jembatan putus sehingga kami kembali. Hari Senin kemarin saya sampaikan kepada Kapolres Yahukimo untuk beliau bersama pasukannya ke Kurima di Kampung Mugi," katanya.

Walau situasi di distrik perbatasan antara Kabupaten Jayawijaya dan Yahukimo itu sudah terkendali, Yan menyarankan kapolres Yahukimo untuk memberikan teguran tegas agar tidak terjadi lagi pertikaian yang menelan korban jiwa.

"Saya sudah serahkan langsung ke kapolres untuk diselesaikan di Polsek Kurima, memediasi mereka untuk mungkin menyelesaikan secara kekeluargaan, atau yang paling penting adalah menghentikan perang sehingga tidak terulang lagi, karena ini kurang ketegasan di masa-masa lalu sehingga masalah lama itu muncul terus," katanya.

Ia mengatakan pertikaian antarmarga itu dilatar belakagi oleh beberapa kasus pembunuhan yang mulai terjadi 1996 lalu.

"Ini semua adalah dendam lama yang masih terus dibawah oleh masyarakat di sana," katanya.(*)

Editor: Anwar Maga

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga