Freeport diminta libatkan masyarakat adat dalam kontrak
Kamis, 31 Juli 2014 8:07 WIB
Freeport Indonesia. (ptfi.com)
Jayapura (ANTARA News) - Peraih Yap Thiam Hien Award 2009 Pastor Jhon Jongga berpendapat PT Freeport Indonesia harus melibatkan masyarakat adat pemilik hak ulayat dalam renegosiasi kontrak karya, agar bisa mendapatkan manfaat secara langsung.
"Freeport harus memikirkan bagaimana memberdayakan, mempercepat pembangunan dan ketertinggalan SDM masyarakat adat dengan melibatkan mereka dalam renegosiasi kontrak karya," kata Pastor Jhon via telepon seluler saat dikonfirmasi Antara dari Jayapura, Papua, Kamis.
Freeport, kata Pastor Jhon, harus bisa memberikan keuntungan bagi masyarakat adat lewat pengerukan barang-barang tambang yang tiap tahunnya menghasilkan keuntungan berlipat ganda.
"Perusahaan yang ada di Papua salah satunya Freeport di Timika atau BP di Bintuni, atau perusahaan lain di Papua. Bukan saja dikontrol tapi diberi hak kepada para pemilik ulayat karena selama ini tidak diberi tempat dalam perundingan, MoU, atau kontrak," katanya.
Padahal, kata Pastor Jhon yang juga ketua Yayasan Teratai Hati Papua, Freeport bekerja dalam wilayah adat atau tanah di pemilik hak ulayat, hanya saja kontrak-kontraknya dilakukan di luar wilayahnya.
"Maka sekarang harus diubah, mereka-mereka yang punya tambang emas itu harus diutamakan, harus menjadi modal bersama dengan perusahaan. Dan yang penting kontrak Freeport harus dipikirkan ulang, harus melibatkan masyarakat adat, masyarakat pemilik hak ulayat menjadi pemilik modal bersama dengan Moffets atau siapa saja yang mempunyai hak di Freeport," katanya.
Dia juga menambahkan, Freeport harus membangun Smelter di Papua karena dengan begitu bisa menyerap ribuan tenaga kerja dan memberikan PAD bagi Provinsi Papua.
"Secepatnya, Freeport harus bangun smelter di Papua. Termasuk membuka kantor cabang utama disini. Freeport harus mendidik anak-anak pemilik ulayat menjadi orang pintar, tujuh suku di Mimika seperti Amugme dan Kamoro menjadi mitra kerja Freeport," katanya.
Pastor Jhon Jongga juga meminta agar Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla harus mendorong itu semua dan menepati pernyataan-pernyataan di media massa terkait kebijakan-kebijakan di Papua.
"Pak Jokowi dan JK harus bangun Pasar Mama Papua dan penuhi janji mau ke Wamena," pintanya. (*)
"Freeport harus memikirkan bagaimana memberdayakan, mempercepat pembangunan dan ketertinggalan SDM masyarakat adat dengan melibatkan mereka dalam renegosiasi kontrak karya," kata Pastor Jhon via telepon seluler saat dikonfirmasi Antara dari Jayapura, Papua, Kamis.
Freeport, kata Pastor Jhon, harus bisa memberikan keuntungan bagi masyarakat adat lewat pengerukan barang-barang tambang yang tiap tahunnya menghasilkan keuntungan berlipat ganda.
"Perusahaan yang ada di Papua salah satunya Freeport di Timika atau BP di Bintuni, atau perusahaan lain di Papua. Bukan saja dikontrol tapi diberi hak kepada para pemilik ulayat karena selama ini tidak diberi tempat dalam perundingan, MoU, atau kontrak," katanya.
Padahal, kata Pastor Jhon yang juga ketua Yayasan Teratai Hati Papua, Freeport bekerja dalam wilayah adat atau tanah di pemilik hak ulayat, hanya saja kontrak-kontraknya dilakukan di luar wilayahnya.
"Maka sekarang harus diubah, mereka-mereka yang punya tambang emas itu harus diutamakan, harus menjadi modal bersama dengan perusahaan. Dan yang penting kontrak Freeport harus dipikirkan ulang, harus melibatkan masyarakat adat, masyarakat pemilik hak ulayat menjadi pemilik modal bersama dengan Moffets atau siapa saja yang mempunyai hak di Freeport," katanya.
Dia juga menambahkan, Freeport harus membangun Smelter di Papua karena dengan begitu bisa menyerap ribuan tenaga kerja dan memberikan PAD bagi Provinsi Papua.
"Secepatnya, Freeport harus bangun smelter di Papua. Termasuk membuka kantor cabang utama disini. Freeport harus mendidik anak-anak pemilik ulayat menjadi orang pintar, tujuh suku di Mimika seperti Amugme dan Kamoro menjadi mitra kerja Freeport," katanya.
Pastor Jhon Jongga juga meminta agar Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla harus mendorong itu semua dan menepati pernyataan-pernyataan di media massa terkait kebijakan-kebijakan di Papua.
"Pak Jokowi dan JK harus bangun Pasar Mama Papua dan penuhi janji mau ke Wamena," pintanya. (*)
Pewarta : Alfian Rumagit
Editor : Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pastor Yustinus: Kehadiran Binmas Noken di Sugapa Intan Jaya buat suasana tenang
02 April 2021 9:24 WIB, 2021
Pastor Gereja Katedral Makassar tiadakan ibadah paskah usai insiden bom
28 March 2021 13:46 WIB, 2021
P.Felix Amias: Video BBC News Indonesia tentang PT Korindo di Papua Selatan banyak manipulasi gambar
16 November 2020 12:05 WIB, 2020
Koordinator JDP: Penembakan karyawan Freeport merupakan tragedi kemanusiaan
04 April 2020 10:19 WIB, 2020
Jamaah Papua dari Tanah Suci ajak kiai-pendeta-pastor bersatu dinginkan kericuhan
19 August 2019 19:47 WIB, 2019