
Ketum Hipmi beri kuliah umum di STIE Port Numbay Jayapura

Harapannya bagaimana teman-teman yang mengikuti kuliah umum ini bisa segera merubah pola pikirnya untuk menjadi seorang `enterpreneur` karena Papua masih sangat membutuhkannya.
Jayapura (Antara Papua) - Ketua Umum DPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia memberikan kuliah umum di STIE Port Numbay di Kota Jayapura, Provinsi Papua, pada pembukaan semester ganjil tahun akademik 2016-2017, Rabu.
Dalam kuliah umum tersebut, Bahlil yang juga lulusan STIE Port Numbay pada 2001, menekankan tema "Menjadi Pengusaha Sebagai Garda Terdepan Pembangunan Indonesia".
Ia menegaskan bahwa kampus adalah tempat untuk mencurahkan pikiran secara bebas, dan seorang mahasiswa harus mempunyai keberanian untuk menjadi seorang pengusaha.
"Harapannya bagaimana teman-teman yang mengikuti kuliah umum ini bisa segera merubah pola pikirnya untuk menjadi seorang `enterpreneur` karena Papua masih sangat membutuhkannya," ujarnya.
Ia menyebut secara nasional jumlah "enterpreneur" baru 1,6 persen dari jumlah penduduk, dan Indonesia masih membutuhkan sekitar 1,8 juta pengusaha untuk memenuhi standar dua persen.
"Kalau kita mau memenuhi standar Bank Dunia yang empat persen, itu butuh 5,8 juta," kata dia.
Bahlil menuturkan bahwa dalam konteks Papua, tidak ada cara lain untuk mendorong ekonomi Papua harus dengan memperbanyak dunia usaha orang Papua.
"Kalau tidak, maka orang lain yang akan mengambil manfaat dari peluang ini," ujarnya.
Diakuinya, hingga kini kecendrungan orang Papua ingin menjadi ASN atau politikus dibanding menjadi "enterpreneur", dan hal ini yang harus segera dirubah dalam dunia perkuliahan.
"Harapan kita kampus STIE Port Numbay harus menjadi garda terdepan menciptakan mahasiswa selesai kuliah, bukan yang siap kerja, tetapi mahasiswa yang siap menciptakan lapangan pekerjaan sehingga mampu menjawab tantangan dan persoalan pemerintah," ujarnya lagi.
Ada beberapa kelemahan mahasiswa Papua yang disebutkannya, untuk menjadi pengusaha, salah satunya adalah keberanian yang kurang, rasa minder.
Padahal menurutnya salah satu persyaratan untuk menjadi pengusaha yang sukses, harus percaya diri dan berani mengambil resiko, berperan dan melakukan sesuatu dalam membangun usahanya.
"Saya bagian dari anak Papua, jadi tahu betul kalau kita mau melakukan sesuatu yang lebih besar banyak pertimbangannya karena sudah ada di zona aman. Anak-anak Papua harus keluar dari zona aman, meraih kendali, merebut peluang, dan memainkan peran," kata Bahlil. (*)
Pewarta : Pewarta: Dhias Suwandi
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
