Logo Header Antaranews Papua

BBKSDA Papua libatkan warga lestarikan cagar alam cyclop

Minggu, 25 September 2016 07:47 WIB
Image Print
Kawasan pegunungan yang mengelilingi lokasi permukiman di Kota jayapura, yang merupakan bagian dari cagar alam Cycloop. (Foto: Antara Papua/Anwar)
Masyarakat mitra polisi hutan itu kami baru mulai di tiga lokasi yakni masyarakat yang ada di sekitar daerah Moy, Sentani Barat, masyarakat di daerah Kampung Sereh, Sentani Kabupaten Jayapura, dan di daerah Angkasa Jayapura.

Jayapura (Antara Papua) - Balai Besar Konservasi dan Sumberdaya Alam (BBKSDA) Provinsi Papua melibatkan warga dengan membentuk masyarakat mitra polisi hutan (MMP) untuk melestarikan kawasan cagar alam pengunungan cyclop di Jayapura dengan pencarian dan pengelolaan data di sekitar cagar alam pegunungan itu.

"Masyarakat mitra polisi hutan itu kami baru mulai di tiga lokasi yakni masyarakat yang ada di sekitar daerah Moy, Sentani Barat, masyarakat di daerah Kampung Sereh, Sentani Kabupaten Jayapura, dan di daerah Angkasa Jayapura," kata Mariana Rahawarin Penganalisis data perlindungan kawasan konservasi pada BBKSDA Papua di Jayapura.

Menurut dia, masyarakat mitra polhut di lokasi Angkasa Jayapura, memang campuran yakni ada masyarakat asli dan masyarakat pegunungan yang memang bermukim di sana.

"Kami memang melibatkan mereka karena kita tahu bersama bagaimana perilaku masyarakat terhadap kawasan konservasi cyclop jadi kami coba melibatkan mereka untuk melestarikan cyclop," ujarnya.

Dia menuturkan satu kelompok dalam masyarakat mitra polisi hutan ini beranggotakan 15 orang dengan demikian tiga kelompok di tiga lokasi tersebut berjumlah 45 orang.

"Dalam pengelolaan cagar alam cyclop itu kan berbasis masyarakat adat karena ada lima suku besar di sekitar pegunungan cyclop dan sekarang kita sudah membentuk tiga kelompok. Kita rencana membentuk dua kelompok lagi," ujarnya.

Menurut dia, dua kelompok yang rencana dibentuk didua suku besar yang bermukim di sekitar kawasan pegunungan cyclop. Rencananya di daerah Kampung Ormu dan Yongsu, selanjutnya di Kampung Doromena.

"Kelompok masyarakat mitra polhut ini bekerja di lapangan selama enam belas hari dan mulai menggunakan "Smart Patrol" untuk pengelolaan data di sekitar cagar alam pegunungan cyclop," ujarnya.

Smart (Spatial Monitoring and Reporting Tool) adalah program pengelolaan sistem data dan pelaksanaan kegiatan perlindungan inventarisasi potensi maupun penyuluhan. Diimplementasikan di Indonesia sejak 2011.

Smart juga membantu mempermudah visualisasi pemetaan hasil kegiatan dan memiliki sistem qerty data yang sangat baik. Tapi juga merupakan sebuah aplikasi yang dipergunakan untuk mengelola database yang terintegrasi secara langsung dengan kegiatan petugas di lapangan. Sistem ini terhubung dengan smartphone sehingga memungkinkan efektifitas pengelolaan data hasil kegiatan. (*)



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026