Jakarta (ANTARA) - Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 telah merumuskan “resep” bagi perekonomian Indonesia capai pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan ke depan.
"Resep” dirancang sebagai antisipasi tantangan global kompleks meski pada 2025 Indonesia menunjukkan resiliensi ekonomi solid, bekal ini tetap perlukan keterpaduan langkah.
Terlebih, ketidakpastian gejolak ekonomi global diperkirakan bayangi dinamika perekonomian dunia, mulai kebijakan tarif Amerika berlanjut perlambatan ekonomi dunia.
“Sinergi”,kata kuncinya ditegaskan Gubernur BI Perry Warjiyo.
Resep pertama dimulai penguatan stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan. Bagi negara manapun tumbuh lebih tinggi dan berdaya tahan, stabilitas sangatlah penting.
Pada 2026, stabilitas makin dibutuhkan. Ini bukan hanya mengungkit pertumbuhan dari sisi permintaan agregat, tetapi jaga ketahanan ekonomi nasional di tengah situasi global cepat berubah.
Stabilitas nilai tukar dan inflasi dijaga, termasuk batas defisit fiskal di bawah 3 persen PDB serta ketahanan dan stabilitas sektor perbankan wajib diperkuat. Semua perlu sinergi fiskal dan moneter.
“Stabilitas yang dinamis. Harga-harga terkendali, rupiah stabil, ekonomi bergerak cepat, dan rakyat dapat manfaat. Itulah ‘Sumitronomcis’,” tegasnya.
Resep kedua, transformasi sektor riil tingkatkan modal, tenaga kerja, dan produktivitas. Transformasi ini ditempuh kebijakan industrial maupun reformasi struktural saling melengkapi.
Kebijakan industrial diarahkan hilirisasi dan industrialisasi SDA fokus peningkatan nilai tambah. Di sisi lain, kebijakan struktural diarahkan perbaikan iklim investasi, kecepatan birokrasi, konektivitas infrastruktur, hingga investasi dan perdagangan.
Resep ketiga tekankan pentingnya perluasan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan. Transformasi sektor riil butuh modal besar, sehingga tidak bisa hanya andalkan APBN.
Karena itu, kebutuhan pendanaan signifikan hilirisasi dan industrialisasi SDA diperkuat perbankan dan lembaga keuangan, serta investasi swasta dalam negeri dan luar negeri.
Resep keempat, percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional. Pemanfaatan QRIS, mobile banking, e-commerce, hingga BI-FAST mudahkan aktivitas masyarakat, sementara digitalisasi transaksi keuangan pemerintah terus berkembang.
Resep kelima pentingnya penguatan kerja sama investasi dan perdagangan, terutama meningkatnya proteksionisme global.Kerja sama bilateral dan regional dihubungkan agenda hilirisasi dan kebutuhan pembiayaan nasional.
Tak hanya berhenti di situ, kerja sama penggunaan mata uang lokal (local currency transactions/LCT) hingga sistem pembayaran digital antarnegara.
Kelima “resep” saling terhubung mampu dorong ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi sekaligus tahan terhadap guncangan eksternal.
Proyeksi pertumbuhan 4,7-5,5 persen di 2025 potensi meningkat 4,9-5,7 persen 2026 dan 5,1-5,9 persen 2027, kebijakan beri dasar optimisme.
BI berkomitmen jaga keseimbangan stabilitas dan pertumbuhan lewat bauran kebijakan pro-stability sekaligus pro-growth, dan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran 2026 diarahkan dorong pertumbuhan.
Arahan Presiden Prabowo Subianto
Arah transformasi, Presiden Prabowo menegaskan urgensi hadirkan solusi cepat, tepat, dan dirasakan langsung masyarakat.
Arah transformasi ekonomi dibarengi tekad kuat bangun tata kelola pemerintahan bersih, adil, dan bebas dari penyelewengan maupun korupsi.
Pemerintah miliki niat lurus, menurut Presiden, tempatkan kebenaran dan keadilan dasar setiap keputusan, serta jalankan kebijakan akal sehat dan keyakinan percaya diri serta berpihak ke rakyat.
Pandangan Presiden, tekad “berdiri di atas kaki sendiri” bukan slogan semata, tetapi landasan moral warnai setiap langkah pembangunan.
Implementasi Keberhasilan “lima resep” BI bergantung konsistensi, integrasi kebijakan, serta partisipasi seluruh pemangku kepentingan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: "Resep" dari PTBI 2025 untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh

