Logo Header Antaranews Papua

Komnas HAM Papua catat empat peristiwa kekerasan menonjol pada awal 2026

Rabu, 15 April 2026 10:51 WIB
Image Print
Komnas HAM Papua dan 15 pengurus BEM dari berbagai perguruan tinggi melaksanakan pertemuan paralel pandangan masyarakat sipil tentang trend kekerasan di Papua. ANTARA/HO-Komnas HAM Papua

Jayapura (ANTARA) - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI Perwakilan Provinsi Papua mencatat pada awal 2026 terdapat empat peristiwa kekerasan yang menonjol yang mengakibatkan kurang lebih sebanyak 14 orang meninggal dunia.

"Kemudian 13 warga sipil disiksa dan puluhan masyarakat mengungsi meninggalkan kampung mereka," kata Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey dalam keterangannya di Jayapura, Rabu.

Menurut Ramandey, keempat peristiwa tersebut ialah pembunuhan dua pilot di Bandara Korowai Batu, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan pada Februari 2026, penyerangan Pos TNI di Kampung Sori Kabupaten Maybrat, Papua Barat, Maret 2026.

"Selanjutnya pembunuhan tenaga kesehatan di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw (Maret 2026) dan kejadian kekerasan yang mengakibatkan adanya korban meninggal dunia di Kabupaten Dogiyai Papua Tengah pada 31 Maret 2026," ujarnya.

Dia menjelaskan pihaknya telah melakukan pertemuan paralel pandangan masyarakat sipil tentang tren kekerasan di Papua dan upaya penyelesaian konflik yang dihadiri 15 pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) baik perguruan tinggi negeri maupun swasta di Kota Jayapura.

"Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan penguatan fungsi koordinatif dengan mahasiswa yang merupakan mitra strategis dan pendapat mereka perlu didengar dalam upaya mendorong situasi pelaksanaan hak asasi manusia yang kondusif di Papua dan upaya upaya mitigasi yang mungkin bisa di lakukan," katanya.

Dia menambahkan dalam pertemuan tersebut para mahasiswa mendesak Komnas HAM untuk menginisiasi sebuah forum nasional masyarakat Papua.

"Forum ini berdiri dari berbagai kalangan untuk duduk bersama untuk membicarakan dan merumuskan upaya penyelesaian konflik di Papua," ujarnya.



Pewarta :
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026