Logo Header Antaranews Papua

Disbudpar Jayawijaya pastikan pelaksanaan FBLB bergilir ke setiap distrik

Jumat, 10 Juli 2026 14:52 WIB
Image Print
Kepala Disbudpar Kabupaten Jayawijaya Engelbert ChW Sorabut diwawancarai sejumlah wartawan di ruang Dinas Komunikasi Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Jayawijaya, Jumat (10/7) 2026. ANTARA/Yudhi Efendi.

Wamena (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan memastikan konsep Festival Budaya Lembah Baliem atau FBLB ke depan akan bergilir ke setiap distrik atau titik-titik yang telah ditentukan.

Kepala Disbudpar Kabupaten Jayawijaya Engelberth ChW Sorabut di Wamena, Jumat mengatakan untuk mendorong pemerataan ekonomi maka penyelenggaraan FBLB ke depan akan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Konsep awal penyelenggaraan FBLB adalah untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di 40 distrik daerah ini. Maka ke depan FBLB akan berpindah-pindah, tahun lalu kami gelar di Wosi, tahun ini di Walesi dan tahu depan akan dipikirkan lagi di daerah mana,” katanya.

Menurut dia, lokasi atau titik yang akan menjadi tempat penyelenggaraan FBLB ke depan akan mewakili beberapa distrik sekaligus.

“Contohnya ketika kita gelar di Distrik Walesi maka distrik yang berdekatan akan bergabung, begitu pula di Wosi, itu ada beberapa distrik di daerah itu yang bergabung menjadi tuan rumah. Hal ini kami lakukan untuk memberikan pemerataan ekonomi bagi masyarakat Jayawijaya,” ujarnya.

Dia menjelaskan penyelenggaraan FBLB ke-34 akan dilaksanakan selama dua hari sejak 7-8 Agustus 2026 di Kampung Walesi, Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya.

“Kami ingin menginformasikan bahwa FBLB yang akan dilaksanakan tahun ini tidak akan menampilkan budaya perang-perangan, tetapi lebih kepada sosial drama, kehidupan asli masyarakat Papua Pegunungan khususnya Jayawijaya,” katanya.

Dia menambahkan drama sosial yang nanti ditampilkan bukan lagi mewakili distrik, tetapi dari sanggar-sanggar tari sehingga kemasannya akan lebih hidup dan berkualitas menggambarkan aktivitas sosial masyarakat Jayawijaya sehari-hari.

“Sosial drama yang ditampilkan adalah kebiasaan atau budaya yang telah hilang (ditinggalkan), proses duka seperti apa, tidak boleh keluar dari honai sekian waktu. Kami ingin menampilkan cerita sosial drama masyarakat Jayawijaya yang tidak pernah dilihat tetapi mungkin didengar dalam sebuah pertunjukan,” ujarnya.



Pewarta :
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026