Logo Header Antaranews Papua

Pemkab Jayawijaya libatkan 50 warga lokal Kampung Walesi pada FBLB 2026

Rabu, 5 Agustus 2026 14:41 WIB
Image Print
Atraksi budaya masyarakat Lembah Baliem pada FBLB ke-33 yang dilaksanakan di Kampung Usilimo, Distrik Wosilimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. ANTARA/Yudhi Efendi

Wamena (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya, Papua Pegunungan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat melibatkan 50 warga lokal Kampung Walesi, Distrik Walesi pada Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 tahun 2026.

Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi dan Pemasaran Pariwisata Disbudpar Kabupaten Jayawijaya Naftali F Rumbiak di Wamena, Selasa, mengatakan dalam susunan kepanitiaan di lapangan pihaknya melibatkan warga lokal Kampung Walesi, Distrik Walesi menjadi panitia FBLB ke-34 tahun 2026.

“Kami melibatkan kurang lebih 50 warga di Kampung Walesi, Distrik Walesi untuk membantu pelaksanaan FBLB ke-34 tahun ini sehingga pelaksanaannya bisa sukses,” katanya.

Menurut dia, keberadaan warga lokal dalam kegiatan kebudayaan penting untuk membantu meningkatkan perekonomian dan menjaga situasi keamanan dan ketertiban di daerah tersebut.

“Tujuan utama penyelenggaraan FBLB adalah meningkatkan ekonomi warga, salah satunya keterlibatan dalam susunan panitia di lokasi maka mereka akan mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan itu,” ujarnya.

Dia menjelaskan pengerjaan stan-stan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan perbaikan tempat duduk penonton telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu dan saat ini telah siap.

“Kami dibantu dengan warga lokal telah menyiapkan stan-stan pendukung dan perbaikan tempat duduk penonton sehingga wisatawan yang hadir nanti bisa menonton setiap pertunjukan yang ditampilkan dengan baik,” katanya.

Dia menambahkan pada FBLB ke-34 tahun ini hanya ada lima sanggar budaya yang akan menampilkan atraksi sosial drama yang menceritakan kebiasaan atau budaya masyarakat asli Lembah Baliem (Jayawijaya) yang pernah ada dan tidak ada lagi di zaman saat ini.

“Kami lebih condong menampilkan sosial drama masyarakat asli di Jayawijaya yang pernah ada sejak zaman dulu, tetapi tidak lagi dipertahankan sampai saat ini. Atraksi perang-perangan antarsuku kemungkinan besar tidak akan ditampilkan lagi,” ujarnya.



Pewarta :
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026