Logo Header Antaranews Papua

Festival Lembah Baliem jadi penggerak ekonomi wisata Papua Pegunungan

Jumat, 7 Agustus 2026 12:18 WIB
Image Print
Wamen Pariwisata RI Ni Luh Enik Ermawati bersalaman dengan salah satu perempuan di Kabupaten Jayawijaya usai tiba di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan untuk menghadiri FBLB ke-34 tahun 2026.ANTARA/HO-Humas Pemprov Papua Pegunungan.

Wamena (ANTARA) - Kehadiran Menteri Koperasi Ferry Juliantono dan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati pada Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 dinilai menjadi momentum untuk memperkuat posisi festival budaya sebagai penggerak ekonomi masyarakat sekaligus memperluas promosi pariwisata Papua Pegunungan di tingkat nasional.

Bupati Jayawijaya Atenius Murib di Wamena, Kamis, mengatakan kedua pejabat pemerintah pusat tersebut telah tiba di Wamena untuk menghadiri pembukaan FBLB ke-34 yang berlangsung pada 7-8 Agustus 2026 di Kampung Walesi, Distrik Walesi.

"Kehadiran Menteri Koperasi dan Wakil Menteri Pariwisata merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat di Papua Pegunungan melalui Festival Budaya Lembah Baliem," katanya.

Rombongan disambut oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya bersama Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan sebagai bagian dari rangkaian pembukaan festival budaya yang telah menjadi agenda pariwisata nasional tersebut.

Menurut Atenius, kunjungan kedua menteri diharapkan tidak hanya memperkuat promosi destinasi wisata Lembah Baliem, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis budaya, koperasi, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi penopang utama masyarakat setempat.

"Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan pemerintah pusat untuk hadir langsung menyaksikan potensi wisata dan budaya yang dimiliki Jayawijaya. Kehadiran ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah," ujarnya.

Ia mengatakan FBLB tahun ini tidak hanya menampilkan atraksi perang adat, tarian tradisional, dan kekayaan budaya masyarakat suku di Lembah Baliem, tetapi juga memperkenalkan berbagai produk unggulan lokal yang memiliki nilai ekonomi, salah satunya kopi arabika Jayawijaya yang telah dikenal memiliki kualitas premium.

"Kopi arabika Jayawijaya merupakan salah satu kebanggaan daerah. Melalui festival ini kami ingin menunjukkan bahwa Papua Pegunungan tidak hanya kaya budaya, tetapi juga memiliki komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional," katanya.

Menurut dia, pengenalan produk unggulan dalam festival menjadi bagian dari upaya memperluas pasar bagi hasil pertanian masyarakat sekaligus memperkuat keterkaitan antara sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

Atenius menambahkan penyelenggaraan FBLB juga diharapkan memberikan efek berganda terhadap aktivitas ekonomi masyarakat karena meningkatnya kunjungan wisatawan akan mendorong permintaan terhadap jasa transportasi, akomodasi, kuliner, hingga produk kerajinan dan UMKM.

"Dampaknya akan dirasakan oleh banyak pelaku usaha masyarakat, mulai dari penyedia transportasi, pengelola penginapan, pedagang, hingga UMKM. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang tercipta di Jayawijaya," katanya.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan keramahan selama pelaksanaan festival agar pengunjung memperoleh pengalaman positif sekaligus memperkuat citra Papua Pegunungan sebagai destinasi wisata budaya yang aman, autentik, dan berdaya saing.

"Kami mengajak seluruh masyarakat menyukseskan Festival Budaya Lembah Baliem karena keberhasilan festival ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi menjadi kebanggaan bersama dan membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat Jayawijaya," ujar Atenius.



Pewarta :
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026