Logo Header Antaranews Papua

Merajut noken sebagai wastra Papua

Selasa, 25 Agustus 2026 20:15 WIB
Image Print
Agusta Bunai (kiri) bersama 11 model menggunakan busana noken dalam ajang peragaan busana di Kota Jayapura pada Rabu (12/8/2026) (ANTARA/Ardiles Leloltery)

Jayapura (ANTARA) - Agusta Bunai bersama 11 model tampil menggunakan busana noken dalam ajang peragaan busana. Mereka menampilkan beragam busana dari dua bahan utama, yakni serat alam dan anggrek kuning yang diambil dari wilayah adat Lapago (La Pago) dan Meepago (Mee Pago) di daerah pegunungan Papua.

Agusta merupakan perancang busana lokal etnik noken Papua. Sebagai perempuan asli Papua, Agusta dituntut mampu menganyam noken. Dia sudah belajar membuat noken sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Noken bukan sekadar tas tradisional yang digunakan masyarakat Papua untuk membawa berbagai kebutuhan sehari-hari. Di balik setiap untaian serat yang dirajut, tersimpan pengetahuan, nilai budaya, identitas, serta cerita tentang kehidupan masyarakat Papua yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Berkat ketekunannya, perempuan kelahiran Wamena, 19 Agustus 1985,ini berhasil membawa noken hingga ke panggung dunia, melalui fesyen. Baginya, noken yang telah tercatat di UNESCO harus terus dilestarikan, sehingga generasi muda Papua mempunyai pekerjaan rumah untuk terus merajut guna mempertahankan noken sebagai warisan.

Noken bukan hanya karya tangan tapi merupakan simbol identitas, ketekunan, hubungan manusia dengan alam, dan kekuatan tradisi Papua. Merajut noken berarti merajut masa lalu dengan masa kini, sekaligus membuka jalan agar warisan budaya Papua tetap memiliki tempat di masa depan.

Dari sinilah, Agusta mulai bermimpi menjadi seorang perancang busana yang bisa merajut noken menjadi busana sebagai wastra Papua. Dengan demikian setiap agenda nasional ataupun kegiatan resmi pemerintahan, semua pejabat mengenakan noken, tidak hanya di panggung adat tetapi juga ada di panggung lainnya yang tak terbatas.

Sejak 2016, ia mulai fokus untuk mendesain busana etnik Papua dari noken dan hingga kini banyak permintaan, tidak hanya terbatas pada ajang karnaval dan peragaan busana saja tetapi sampai acara resmi, seperti pernikahan yang bernuansa etnik atau upacara peringatan 17 Agustus 2026.

Pertahankan budaya

Papua tidak hanya mempunyai tambang emas, tetapi juga ada "emas hutan", seperti serat alam dan anggrek kuning. Potensi ini jika dimanfaatkan dengan baik, seperti membuat produk, baik berupa tas noken maupun busana dengan kualitas yang bagus dan bisa menembus pasar global, maka pundi-pundi rupiah akan terus mengalir.

Tahu akan peluang tersebut, Agusta bermimpi untuk budi daya tanaman-tanaman pembuat noken dari pewarnaan alami, buah-buah hutan, hingga serat alam. Serat alam, selain dijadikan busana bisa juga untuk dekorasi rumah ataupun taplak dan gorden, hingga produk turunannya sangat banyak. Ini menjadi salah satu potensi industri kreatif di Tanah Papua yang seharusnya dilirik oleh semua pihak untuk bagaimana mempertahankan budaya.

Di sisi lain, pihaknya juga mengajarkan teknik merajut kepada generasi muda melalui program "Sa Pu Karya". Program tersebut selain memberikan edukasi untuk mencintai noken, anak-anak muda di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, bisa merajut dengan memanfaatkan bunga hutan.

"Kami harus bangga memakai hasil karya sendiri. Jika produk yang dihasilkan sudah dikenal banyak orang, maka dampaknya adalah perekonomian bisa meningkat," katanya.

Baju noken dengan serat alam banyak disukai oleh masyarakat, khususnya para wisatawan mancanegara. Dengan demikian, jika pasar sudah kuat, sekarang membutuhkan orang-orang yang fokus dan konsisten dalam mengembangkan dan melestarikan noken supaya tidak punah.

Pengembangan noken sebagai produk budaya juga perlu memperhatikan kesejahteraan para perajinnya. Nilai ekonomi yang tumbuh dari noken seharusnya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjaga tradisi tersebut. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat lokal.

Pemerintah Kota Jayapura, Papua, mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda setempat, terus berkarya dan menjadikan seni serta budaya sebagai sarana membangun masa depan yang lebih baik.

Staf Ahli Wali Kota Jayapura Sem Stenly Merauje mengatakan Papua merupakan wilayah yang memiliki kekayaan budaya, keindahan alam, serta narasi sosial yang sangat kuat dan beragam, mulai dari tradisi, lisan, seni rupa, musik, hingga perkembangan ekspresi visual kontemporer.

Masyarakat Papua memiliki ciri yang khas dalam merekam pengalaman hidup, membangun identitas serta merespons perubahan zaman. Semua kekayaan ini menjadi potensi besar dalam pengembangan sektor seni dan industri kreatif berbasis lokal.

Saat ini geliat ekonomi kreatif di Papua menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan di mana generasi muda mulai aktif memanfaatkan berbagai medium kreatif, seperti film, fotografi, ilustrasi, dan seni pertunjukan untuk menyampaikan cerita tentang identitas.

Aksesori wajib

Pemerintah Provinsi Papua telah menetapkan noken sebagai aksesori wajib dalam setiap kegiatan resmi pemerintahan sebagai langkah pelestarian budaya, sekaligus upaya mendorong perputaran ekonomi perajin lokal, khususnya mama-mama Papua.

Penjabat Sekretaris Daerah Papua Christian Sohilait mengatakan kebijakan tersebut menjadi komitmen pemerintah daerah dalam menjaga eksistensi noken sebagai identitas budaya yang telah diakui dunia.

Noken telah ditetapkan sebagai warisan budaya bukan benda oleh UNESCO, sehingga sudah sepatutnya digunakan dalam kehidupan setiap hari, termasuk dalam seluruh aktivitas formal pemerintahan di Papua.

Selain itu, pemerintah kabupaten dan kota di Papua juga telah menerapkan penggunaan noken sebagai aksesori dalam berbagai kegiatan, baik saat rapat resmi maupun menerima tamu dari luar daerah. Terkait itu, pemerintah daerah terus membuka ruang bagi mama-mama Papua untuk memamerkan dan menjual hasil kerajinan noken dalam setiap momentum kegiatan pemerintahan.

Kebijakan penggunaan noken secara konsisten diharapkan dapat memperkuat kebanggaan terhadap produk lokal, sekaligus menciptakan perputaran ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat Papua.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Merajut Noken sebagai wastra Papua



Oleh
Editor: Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026