Pemimpin Azad Kashmir kecam "kebungkaman" global mengenai Kashmir

id Sardar Masood Khan,Kebungkaman internasional,Kashmir

Presiden Kashmir dalam wilayah Pakistan Sardar Masood Khan (Anadolu Agency/ FA)

Islamabad (ANTARA) - Presiden Kashmir yang dikuasai Pakistan telah menuduh masyarakat internasional "tidak melakukan apa-apa untuk mengurangi penderitaan rakyat Kashmir" di tengah krisis baru-baru ini di wilayah sengketa tersebut.

Saat berbicara dalam satu konferensi nasional di Islamabad, Ibu Kota Pakistan, pada Selasa (3/9) mengenai krisis Kashmir yang dikuasai India, Sardar Masood Khan mengatakan situasi di Jammu dan Kashmir bertambah parah pada hari itu.

"Hari ini orang-orang di Kashmir India disiksa, dibunuh, dipenjarakan dan dilucuti hak dasar mereka sementara masyarakat internasional tidak bergerak dan tidak melakukan apa-apa untuk mengurangi penderitaan rakyat di lembah tersebut," kata Khan dari Azad Kashmir.

Pada Agustus, India mencabut semua ketentuan khusus yang diberikan buat warga Jammu dan Kashmir berdasarkan Pasal 370 Undang-Undang Dasar India.

India juga memisahkan provinsi itu menjadi dua "wilayah persatuan" yang berada di bawah pemerintah pusat dan menghapuskan kekuasaan majelisnya.

"Kebungkaman masyarakat internasional mengenai ketegangan antara kedua tetangga yang bersenjata nuklir adalah pengabaian pidana, dan dampaknya bukan hanya menghancurkan buat Pakistan dan rakyat Kashmir tapi seluruh dunia," kata Khan dalam konferensi yang diselenggarakan oleh Pusat bagi Studi Perdamaian, Keamanan dan Pembangunan (CPSD), sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Turki, Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu.

India telah memblokir komunikasi dan memberlakukan pembatasan ketat guna menangkal aksi perlawanan, sementara para pemimpin politik di wilayah itu telah ditahan sementara kelompok hak asasi manusia berulangkali menyeru New Delhi agar mencabut pembatasan dan membebaskan tahanan politik.

Namun, Pemerintah India telah mengklaim 90 persen wilayah sengketa Jammu dan Kashmir bebas dari pembatasan siang hari.

Dari 1954 sampai 5 Agustus, Jammu dan Kashmir memiliki ketentuan khusus yang menjadi landasan pemberlakuan hukumnya sendiri. Ketentuan tersebut juga melindungi warga wilayah tersebut, yang melarang orang luar menetap dan memiliki lahan di wilayah itu.

Baca juga: India tahan 300 politisi Kashmir untuk redam aksi protes

India dan Pakistan, keduanya, menguasai beberapa wilayah Kashmir tapi mengklaim seluruhnya. China juga menguasai sebagian wilayah sengketa tersebut, tapi India dan Pakistan lah yang telah dua kali terlibat perang mengenai Kashmir.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Pakistan tuduh India lepaskan tembakan di perbatasan Kashmir

Baca juga: India berlakukan lagi pembatasan gerakan di bagian-bagian Srinagar

Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar