ACT Sulsel bagikan masker kepada warga terdampak asap TPA Makassar

id TPA Tamangapa, ACT Sulsel

Tim ACT Sulsel saat turut membagikan masker kepada warga sekitar TPA Tamangapa Kelurahan Antang Kecamatan Manggala Kota Makassar, Senin (16/09/2019). ANTARA Foto/HO-Humas ACT Sulsel

Makassar (ANTARA) - Tim relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulawesi Selatan membagikan masker kepada warga sekitar tempat pembuangan akhir sampah Tamangapa di Kelurahan Antang Kecamatan Manggala Kota Makassar.

Pembagian masker, Senin, merupakan upaya mencegah terjadinya Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) kepada warga karena asap yang masih mengepul setelah kebakaran yang terjadi sejak 5 September 2019, sekira pukul 13.30 Wita.

"Kita turun ke lokasi menyempatkan berbagi masker kepada warga sekitar dan para pemulung agar mereka tetap bisa aman dan nyaman bernafas dari asap dan bau menyengat sampah yang ada," ungkap Humas ACT Sulsel, Mustafa.

Saat ini petugas pemadam kebakaran dan pengelola UPTD TPA Tamangapa masih "standby" atau berjaga-jaga untuk memastikan kebakaran tersebut tidak semakin menjalar.
Baca juga: ACT Sumsel bagikan masker ke pengendara kurangi risiko asap

Tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut, namun diketahui empat ekor sapi warga sekitar telah mati akibat kebakaran itu.

TPA Tamangapa menjadi TPA terbesar di Kota Makassar dengan daya tampung mencapai 12 ribu ton sampah dari berbagai sudut wilayah Kota Makassar. Sekitar 500 pemulung beraktivitas dan menggantungkan hidup setiap hari di bukit-bukit sampah tersebut.

Sekira 10 hektar dari total 16,8 hektar lahan telah terbakar dan membentuk titik-titik api. Kepulan asap membumbung hingga kini masih memenuhi langit TPA Tamangapa.
Baca juga: ACT bangun 1.400 sumur wakaf untuk atasi kekeringan

"Dugaan sementara warga setempat, penyebab kebakaran ialah teriknya matahari di musim kemarau memantik gas yang berada dalam tumpukan sampah sehingga memunculkan percikan api yang terus menjalar ke berbagai tumpukan sampah lainnya," jelasnya.

Ironisnya, beberapa pemulung tetap beraktivitas seperti biasa. Memilah milih sampah seolah tidak khawatir akan terkena percikan api.

"Mereka sudah biasa pak, bahkan sebenarnya setiap tahun kawasan ini terbakar, tetapi kali ini cukup luas dampaknya," kata seorang warga, Syamsir.

Bukan itu saja, menurut Syamsir, sebagian pemulung justru "senang" jika tumpukan sampah tersebut terbakar, sebab biasanya akan muncul logam atau besi ke permukaan sampah yang harganya jauh lebih mahal dari sampah plastik pada umumnya.
Baca juga: ACT salurkan 8.000 liter air bersih atasi kekeringan di Aceh Tamiang
 

Pewarta : Nur Suhra Wardyah
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar