Pascakerusuhan Wamena, Dokter Iluni FKUI tetap pilih menetap di Papua

id Wamena,Papua,Dokter Papua,Tenaga kesehatan,FKUI,Ari Fahrial Syam

Pengungsi kerusuhan Wamena mendapatkan perawatan kesehatan saat Pesawat Hercules C-130 TNI AU yang membawanya menuju Lanud Halim Perdana Kusuma transit di Lanud Iswahjudi Magetan, Jawa Timur, Kamis (3/10/2019). Sebanyak 50 orang pengungsi kerusuhan Wamena, terdiri 42 orang dari beberapa daerah di Sumatera dan delapan orang dari Jawa Timur ransit di Lanud Iswahjudi untuk makan, istirahat dan mendapatkan perawatan kesehatan sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke daerah asal. ANTARA FOTO/Siswowidodo/aww (ANTARA FOTO/SISWOWIDODO)

Jakarta (ANTARA) - Dokter-dokter yang tergabung dalam Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (Iluni FKUI) dan sedang bertugas di Papua memilih untuk menetap dan tetap melayani masyarakat Papua pascakejadian di Wamena yang menewaskan 33 jiwa.

Dekan FKUI Prof Ari Fahrial Syam mengatakan di Jakarta, Kamis, bahwa dokter alumni FKUI yang berada di Papua berkomitmen untuk tetap bertugas di Papua melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

"Kondisi Wamena sedemikian dahsyatnya, tapi kondisi di wilayah lain tidak seperti itu. FKUI dengan nama Indonesia, tetap menjadi juru bangsa dan alumni harus siap bertugas di manapun. Tetap berada di tanah Papua untuk menolong masyarakat Papua," kata Ari Fahrial dalam keterangannya kepada pers di gedung FKUI.

Ari menyadari bahwa tenaga kesehatan di Pulau Papua sangat minim. Sementara kondisi pascakejadian di Wamena yang menewaskan banyak warga bisa memengaruhi motivasi bagi dokter-dokter lain untuk bertugas di Papua.

Baca juga: Kemkes berencana kirim tim pemulihan trauma ke Wamena malam ini

Namun Ari menerangkan bahwa alumni FKUI masih berada di Papua dan mendapatkan perlindungan dari aparat keamanan pemerintah.

"Alumni FKUI masih ada di sana dan pemerintah bisa memberikan keamanan pada tenaga kesehatan di sana terutama dokter umum dan dokter spesialis," kata dia.

Sejumlah dokter lulusan FKUI di Papua sempat berkomunikasi melalui telekonferensi dan menyatakan komitmennya akan tetap bertugas di Papua untuk melayani masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.

Dr. Samuel Baso, SpPD yang bertugas di RS Provita Jayapura dan telah bertugas di Papua sejak 1993 menyampaikan komitmennya untuk terus melayani masyarakat Papua walau tidak sedikit terjadi kericuhan di tanah Cendrawasih tersebut. Dia mengatakan bahwa situasi saat ini sudah kondusif.

"Walaupun beberapa tahun ada kericuhan, ada isu, hoaks, orang Papua baik. Kami berkomitmen namun jaminan keselamatan sangat penting," kata Samuel yang juga merupakan Ketua IDI Kota Jayapura.

Samuel tahun lalu sudah memasuki masa pensiun namun tetap tinggal di Papua sebagai tenaga ahli. Samuel juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Cendrawasih.

Baca juga: 712 pengungsi korban demo Wamena ditangani tim gabungan kesehatan

Dokter spesialis kedokteran jiwa dari RS Schoolo Keyen Papua Barat dr Rizky Aniza Winanda SpKJ mengatakan tempatnya tinggal di Sorong sangat aman. Dia menilai pemberitaan di media massa terlalu berlebihan karena tidak seluruh wilayah Papua terjadi kericuhan.

"Tempat kami sangat aman, banyak pendatang dari Makassar dan orang asli Papua sangat terbuka pada para pendatang. Sempat rusuh pada 19 Agustus dan yang menjadi target pertokoan. Orang Papua melindungi dan termasuk staf di rumah sakit," kata dia.

Kendati demikian, Ari dan tenaga medis yang bertugas di Papua lainnya meminta jaminan keamanan dari pemerintah dalam menjalankan tugasnya melayani masyarakat Papua. Sejumlah wilayah di Papua dengan berbagai tantangan geografis yang ada masih membutuhkan tenaga kesehatan.

Baca juga: Layanan kesehatan pasien korban demo Wamena dipastikan terus berjalan

Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar