Penyidik pulangkan mahasiswa penyebar konten penghinaan polisi

id penyebar konten penghinaan,mahasiswa hina polisi,ujaran kebencian

Tampilan akun media sosial facebook milik mahasiswa berinisial IW (19), penyebar konten penghinaan dan ujaran kebencian yang diunggah dalam akun media sosial facebooknya bernama "Wathani Ishlahul", terkait video dugaan tindakan represif oknum kepolisian terhadap peserta demonstrasi, Mataram, Sabtu (5/10/2019). (ANTARA/Dhimas BP)

Mataram (ANTARA) - Penyidik Kepolisian Resor Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, memulangkan mahasiswa berinisial IW (19), penyebar konten penghinaan dan ujaran kebencian yang diunggah dalam akun media sosial facebooknya bernama "Wathani Ishlahul", terkait video dugaan tindakan represif oknum kepolisian terhadap peserta demonstrasi.

Kasat Reskrim Polres Lombok Timur AKP I Made Yogi Purusa Utama yang dihubungi Antara melalui telepon selulernya, Sabtu, memastikan bahwa mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Mataram tersebut kini sudah berkumpul kembali bersama keluarganya.

"Karena dia kooperatif, sudah menyadari kesalahan, dia mengaku khilaf dan meminta maaf terkait 'postingan' videonya itu, jadi kami pulangkan. Sabtu (5/10) pagi tadi, dia pulang bersama keluarganya," kata Yogi.

Yogi mengatakan langkah kepolisian memulangkan mahasiswa asal Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, itu merupakan bagian dari upaya preventif kepolisian dalam menindaklanjuti persoalan hukum yang sebenarnya dapat mengancam IW dengan pidana penjara paling berat enam tahun dan denda Rp1 miliar.

Hitungan ancaman tersebut sesuai dengan pidana yang tersirat dalam Pasal 27 Ayat 3 Juncto Pasal 45 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 11/2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 19/2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Namun demikian, kembali dikatakan bahwa IW yang berinisiatif mendatangkan dirinya ke hadapan Penyidik Satreskrim Polres Lombok Timur pada Jumat (4/10) sore, dengan didampingi pihak keluarga, menjadi pertimbangan besar kepolisian untuk mengedepankan langkah persuasif dalam menyelesaikan permasalahannya.

"Jadi kita hanya penuhi syarat BAI (berita acara interogasi) saja dan kita imbau untuk tidak seperti itu lagi. Karena perbuatan seperti itu jelas dapat merugikan dirinya dan juga orang tua, keluarga," ujarnya.

Kalimat komentar IW dalam video unggahannya itu memang nampak kurang elok untuk disampaikan, apalagi oleh kaum terdidik dan berintelektual. Layaknya jati diri seorang nahkoda kapal yang sedang memimpin pelayaran, wajah masa depan bangsa ini sangat bergantung kepada mereka, generasi penerus bangsa.

Lebih lanjut, terkait unggahan video yang memvisualisasikan dugaan tindakan represif oknum kepolisian terhadap peserta demonstrasi tersebut, sangat disadarinya sebagai sebuah kesalahan yang bisa saja memprovokasi rekan pengguna media sosial lainnya, terutama di kalangan remaja seumuran IW.

Karenanya, IW dengan inisiatif pribadi menyatakan di hadapan penyidik akan menghapus komentar dan video yang dia unggah dalam akun facebooknya.

Dia juga memvisualisasikan rasa penyesalannya itu melalui sebuah postingan video berdurasi 47 detik. Dalam postingannya, IW yang mengenakan kemeja batik biru meminta maaf dan mengakui komentar negatifnya itu tidak patut dilontarkan oleh orang yang berpendidikan.

Dalam videonya ini, IW terlihat sangat terpukul. Mungkin karena malu dengan perbuatan khilafnya itu, IW di akhir rekaman menyampaikan dengan penuh kesadarannya berjanji untuk tidak kembali mengulangi perbuatan yang dapat mengakhiri masa depannya di balik jeruji besi.

"Janjinya itu juga dia sampaikan secara tertulis melalui surat pernyataan sikap yang menyatakan kalau tidak tidak lagi mengulangi perbuatannya," ucap Yogi.

Baca juga: Tersangka YP masih diperiksa di Bareskrim Polri

Baca juga: Pakar TI dorong peran Kominfo cegah konten penghina kepala negara

Pewarta : Dhimas Budi Pratama
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar