Survei: Keterwakilan perempuan di DPR capai 20,52 persen

id Keterwakilan perempuan, dpr ri

Sebuah diskusi keterwakilan perempuan yang dihadiri Peneliti Perludem Fadli Ramadhanil, Direktur Pusako FH Unand Feri Amsari, Ketua Kode Inisiatif Veri Junaidi, aktifis perempuan Yuda Irlang dan Anggota DPR Andi Yuliani di Jakarta, Minggu (8/9/2019). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/hp

Jakarta (ANTARA) - Survei yang dilakukan lembaga riset sosial politik Cakra Wikara Indonesia menyebutkan keterwakilan perempuan di DPR pada 2019 mencapai 20,52 persen, angka ini meningkat dari periode 2014-2019 yaitu sekitar 17,32 persen.

"Dari total 575 kursi yang ada di DPR, sebanyak 118 kursi diraih oleh perempuan. Angka ini menjadi angka tertinggi representasi perempuan selama pemilu Indonesia sejak 1955," kata peneliti Cakra Wikara Indonesia Anna Margret di Jakarta, Jumat.

Anna mengatakan PDI-P menjadi partai dengan perolehan kursi tertinggi di DPR yaitu 26 kursi, kemudian disusul Partai Golkar dan Partai Nasdem dengan perolehan 19 kursi.

Meningkatnya angka keterwakilan perempuan menurut Anna juga dipengaruhi semakin banyaknya nama-nama perempuan yang masuk dalam pencalonan anggota DPR.

Baca juga: Melihat representasi dan kepemimpinan perempuan di DPR RI 2019-2024
Baca juga: Jalan panjang mewujudkan keterwakilan perempuan di parlemen

Kewajiban partai politik untuk memasukkan 30 persen perempuan dalam pencalonan legislatif, berdampak pada tingginya angka tersebut.

Cakra Wikra mencatat di sejumlah provinsi angka pencalonan untuk perempuan bisa melampaui 50 persen, contohnya di Sulawesi Barat yang calon perempuannya sebesar 56,14 persen.

Provinsi Sulawesi Barat menjadi provinsi tertinggi pencalonan perempuan untuk DPR RI.

Sementara itu Komisioner Komnas Perempuan Khariroh Ali mengatakan selain karena wajibnya partai mencalonkan 30 persen perempuan, tingginya angka perempuan di DPR juga disebabkan pemilih yang semakin cerdas memilih kandidat sesuai kinerjanya.

"Sering kali calon-calon perempuan itu sudah memiliki modal sosial dan politik, sehingga mereka bisa terpilih tanpa mengeluarkan modal besar," kata dia.

Semakin banyaknya terpilih anggota perempuan, bukan berarti agenda-agenda pro-perempuan dapat berjalan mulus.

Dia mengatakan, dengan komposisi anggota perempuan di DPR, diisi oleh setengah wajah baru dan setengah wajah lama, maka ada kesempatan untuk saling mendorong agenda pro-perempuan.

Baca juga: Jumlah perempuan anggota DPR/DPD bertambah meski belum sesuai harapan
Baca juga: Ketua Komisi VIII DPR minta legislator perempuan pahami tugas

Pewarta : Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar