Teknologi nuklir uji tak rusak diperkenalkan BATAN

id Uji tak rusak,Teknologi nuklir,BATAN,IAEA

Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir BATAN Suryantoro dalam sambutan pada lokakarya dan pameran BATAN-IAEA Collaborating Center di Jakarta Selatan, Selasa (3/12/2019). (FOTO ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN) membuka kesempatan kepada industri dan segala pemangku kepentingan untuk memanfaatkan teknologi nuklir lewat lokakarya dan pameran untuk peran uji tak rusak dan analisis nuklir.

Hal itu dilakukan setelah sebelumnya BATAN ditunjuk oleh Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency /IAEA) sebagai pusat kolaborasi untuk Non-Destructive Investigation (NDI) atau uji tak rusak dan pemuliaan tanaman

"Dengan pengakuan ini, BATAN telah menjadi negara tujuan bagi negara-negara lain, khususnya di kawasan regional Afrika dan Asia-Pasifik untuk mengikuti pelatihan teknik uji tak rusak," kata Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir BATAN Suryantoro dalam sambutan pada lokakarya dan pameran BATAN-IAEA Collaborating Center di Jakarta Selatan, Selasa.

Penunjukkan itu, kata Suryantoro, merupakan hal yang membanggakan karena IAEA hanya menunjuk satu negara sebagai pusat kolaborasi atau collaborating center dalam empat tahun.

Ia menjelaskan tugas BATAN, sebagai pusat kolaborasi adalah memberikan informasi kepada masyarakat tentang NDI dan juga membuat jejaring sehingga uji tak merusak dan analisis nuklir yang ada bisa dimanfaatkan di Indonesia dengan maksimal.

Dalam empat tahun terakhir BATAN juga sudah berhasil mengembangkan berbagai teknik dan peralatan uji tak rusak berbasis nuklir yang digunakan dalam sektor industri manufaktur, infrastruktur, pengolahan, maupun untuk lingkungan.

Berbagai sektor industri seperti industri logam, migas, transportasi, manufaktur, konstruksi, elektronika, dan lain-lain telah memanfaatkan NDI untuk mengendalikan mutu dalam meningkatkan keselamatan dan keandalan produk yang berdampak pada reputasi industri pengguna.

Selain itu, menurut Suryantoro, beberapa teknologi yang dikembangkan BATAN antara lain X-Ray dan Gamma–Ray Radiography, Neutron Radiography, Neutron Activation Analysis (NAA), Thin Layer Analysis (TLA), X-Ray Diffractometer (XRD) dan X-Ray Fluorescence (XRF) yang dapat dimanfaatkan pada sector industri, manufaktur, lingkungan, dan kesehatan.

Selain itu BATAN juga mengembangkan teknologi NDI berbasis non radiasi, seperti Ultrasonic Testing (UT) dan UT Pundit, Ground Penetrating Radar (GRP), Thermography, dan Accoustic Emission.

Ia menambahkan BATAN telah berhasil mengembangkan perangkat uji tak rusak radioskopi dan gamma scanner berbasis nuklir, yang sangat efektif digunakan untuk banyak pekerjaan di bidang industri.

"Perangkat radioskopi dapat diaplikasikan pada industri manufaktur untuk inspeksi produk secara langsung (real time) dan gamma scanner digunakan untuk mengetahui kondisi kolom pada instalasi industri, khususnya industri petrokimia," demikian Suryantoro.

Baca juga: BATAN satu-satunya pusat kolaborasi teknologi nuklir dunia

Baca juga: Indonesia dan IAEA tandatangani teknologi nuklir damai

Baca juga: Menristek ingin Batan dan Bapeten bumikan nuklir di Indonesia

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar