Molabot Tumpe, cermin persaudaraan warga Banggai

id molabot tumpe,malabot tumbe,tradisi banggai

Sejumlah pengawal kerajaan membawa telur burung maleo yang baru tiba ke Karaton Banggai pada ritual Molabot Tumpe/Malabot Tumbe di Banggai, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Rabu (4/12/2019). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ama.

Luwuk (ANTARA) - Ritual adat tahunan pengantaran telur maleo atau tumpe yang dilaksanakan masyarakat adat Batui di Kabupaten Banggai ke Keraton Kerajaan Banggai di Kabupaten Banggai Laut merupakan cermin ikatan persaudaraan warga di wilayah Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

Tradisi yang diperkirakan telah berlangsung pada era kepemimpinan Raja Maulana Prins Mandapar (Mbumbu Doi Godong) sekitar tahun 1600 itu sampai sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat adat, yang meyakini pengantaran telur maleo wajib dilakukan untuk menghindari bencana.

Tahun ini, rangkaian upacara pengantaran telur maleo menggunakan perahu dan kapal tradisional digelar mulai Senin (2/2) di Batui dan berakhir di Keraton Banggai pada Rabu (4/12).

Sebelum diantarkan ke Keraton Banggai, telur maleo yang dikumpulkan dari masyarakat dari kelompok adat Dakanyo Ende, Binsilok Balantang, Tolando, Binsilok Katudunan, dan Topundat lebih dahulu dibungkus dedaunan.

Sebanyak 85 telur maleo yang telah dibungkus dengan daun pohon palem atau kombonou kemudian diantar ke rumah adat secara estafet dan diinapkan semalam. 

Setelah itu, upacara dilanjutkan dengan mintauakon, ritual menurunkan telur dari rumah sebelum diantar ke dermaga oleh para pembawa telur didampingi para tetua adat setempat.

Saat prosesi berlangsung, jalanan harus sepi dari aktivitas. Tidak boleh ada warga adat yang berada di depan para pengantar telur. Para pengantar telur juga tak diperkenankan berhenti di tengah jalan saat prosesi berlangsung.

Tabuhan gendang dan gong mengiringi tradisi pengantaran telur maleo yang diikuti oleh ribuan warga dari rumah adat ke kapal yang telah disiapkan di dermaga di bantaran Sungai Batui.

Di dermaga, telur maleo dijemput oleh perangkat adat, yang kemudian meletakkannya di tempat khusus di dalam kapal yang akan membawanya ke Keraton Banggai.

Tabuh gendang dan gong kembali bersahutan kala kapal lepas labuh dengan kawalan sejumlah perahu yang ditumpangi prajurit adat.

Telur-telur maleo tidak langsung dibawa ke Keraton Banggai di Banggai Laut. Sebelumnya, ada prosesi persinggahan dan penggantian pembungkus telur di perjalanan. 

Para pembawa telur dalam perjalanan menuju Keraton Banggai singgah di wilayah Desa Pinalong, Kabupaten Banggai Kepulauan dan rumah adat Kusali Tolo di Desa Mansalean, Kecamatan Labobo, Kabupaten Banggai Laut.

Pada 4 Desember, para pembawa telur tiba di Desa Tinakin, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut dan bermalam di sana. Keesokan harinya, perangkat adat Banggai memulai prosesi penjemputan telur (Malabot Tumbe). 

Di Dermaga Banggai, tetua adat dari Batui menuju Keraton Banggai untuk melapor lalu menyerahkan telur maleo ke perangkat adat Banggai.
 
Pengawal menyimpan telur burung maleo (Macrochepalon maleo) persembahan untuk Raja Banggai pada ritual Molabot Tumpe atau Malabot Tumbe di Banggai, Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Rabu (4/12/2019). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ama.


Sejarah Tumpe/Tumbe

Tumpe dalam bahasa Saluan atau Tumbe dalam bahasa Banggai artinya sama yakni; pertama atau awal. Molabot dalam bahasa Saluan dan Malabot dalam bahasa Banggai juga punya arti sama, menjemput. Molabot Tumpe/Malabot Tumbe bisa diartikan menjemput telur maleo yang pertama.

Tradisi Malabot Tumpe berakar dari sejarah Kerajaan Banggai atau Benggawi. Kerajaan itu pernah dipimpin oleh Raja Adi Cokro atau Adi Soko menurut sebutan orang Banggai.

Sang raja memiliki tiga istri, yang pertama Kastela, perempuan berdarah Portugis dari Ternate yang dari rahimnya terlahir Maulana Prince Mandapar. Istri keduanya Nur Sapa, putri raja dari tiga kerajaan kecil bersaudara Matindok, Loa, dan Bolak di Batui yang melahirkan Abu Kasim. Istri ketiganya, putri bangsawan dari empat kerajaan kecil di Banggai yang kemudian melahirkan Putri Saleh. 

Hingga saat ini keturunan dari empat kerajaan di Banggai itulah memegang amanah sebagai Basalo Sangkab.

Ketika Adi Soko hendak meninggalkan Batui menuju Banggai, ayah dari istrinya yang bernama Nur Sapa, Raja Matindok di Batui yang bernama Ali Asine, menghadiahi dia sepasang burung maleo untuk dibawa ke Banggai (sekarang Kabupaten Banggai Laut).

Namun, Adi Soko kemudian harus mengemban tugas ke Jawa bersama anaknya Putri Saleh. Dia pun membawa serta sepasang burung maleo dari pemberian mertuanya dari Batui ke Jawa.

Ia pergi cukup lama, sehingga terjadi kekosongan kepemimpinan di Kerajaan Banggai.

Guna menghindari kekacauan akibat kekosongan kepemimpinan, para perangkat kerajaan, pemangku adat, dan keturunan dari empat kerajaan kecil di Banggai membuat rapat untuk penggantian/pengangkatan Raja Banggai baru pengganti Adi Soko melalui sayembara permainan adu gasing.

Dalam sayembara tersebut, putra Adi Soko yang bernama Abu Kasim, hasil perkawinannya dengan Putri Raja di Batui, menjadi pemenang. Namun Abu Kasim menolak diangkat menjadi Raja sebelum berkonsultasi kepada ayahnya Adi Soko di tanah Jawa.

Perangkat kerajaan dan pemangku adat kemudian mempersiapkan keberangkatan Abu Kasim ke tanah Jawa untuk menemui ayahnya Adi Soko bersama 40 orang bayi dan ayunan sesuai permintaan Abu Kasim.

Sesampai di tanah Jawa, berbekal tanda cincin yang diberikan ayahnya, Abu Kasim akhirnya bertemu Adi Soko. Dalam pertemuan tersebut Abu Kasim menyampaikan keinginan dari pemangku adat dan masyarakat Banggai.

Namun Adi Soko menolak untuk kembali ke Banggai karena masih mengemban tugas di Jawa.

Adi Soko meminta Abu Kasim menemui kakaknya Maulana Prince Mandapar yang berada di Ternate, yang menurut penilaiannya merupakan figur yang tepat untuk menjadi Raja Banggai.

Ketika Abu Kasim akan kembali, Adi Soko meminta dia membawa Putri Saleh ke Banggai bersama sepasang burung maleo untuk dipelihara. Burung maleo tersebut juga ditujukan sebagai bukti bahwa Abu Kasim telah bertemu dengan ayahnya di tanah Jawa. Sepasang burung Maleo tersebut dikembalikan karena tidak dapat berkembang biak di tanah Jawa.

Selanjutnya, berangkatlah Abu Kasim ke Ternate untuk menjemput kakaknya, Maulana Price Mandapar, yang ketika itu telah berada di kapal yang siap berangkat ke Portugis.

Berbekal petunjuk cincin yang sama, Abu Kasim dapat bertemu dan membawa Maulana Price Mandapar ke Banggai.

Sekembalinya di Banggai, Abu Kasim bersama kakaknya, Maulana Prince Mandapar, menemui pemangku adat dan perangkat kerajaan Banggai untuk melaporkan hasil perjalanannya sekaligus menyampaikan pesan dari ayahnya Adi Soko.

Pada saat itulah babak baru pemerintahan kerajaan Banggai dimulai dengan pengukuhan Maulana Prince Mandapar sebagai Raja Banggai.

Sementara itu, sepasang burung maleo titipan Adi Soko ternyata juga tidak dapat berkembang biak di Banggai sehingga Abu Kasim membawanya ke keluarganya di Batui untuk dikembangbiakkan.

Saat itu, ia menyampaikan pesan yang hingga saat ini secara turun temurun tetap dipegang teguh oleh masyarakat adat Batui dan Banggai.

"Kutitipkan sepasang burung maleo ini kepada keluargaku di Batui untuk dipelihara dan apabila bertelur nanti, telur pertamanya dikirimkan kepada keluargaku di Banggai dan jumlah telur maleo yang dikirimkan ke Banggai menggambarkan jumlah keluarga di Batui".

Semenjak burung maleo itu bertelur dan berkembang biak, upacara adat tumpe dilaksanakan untuk mengantar telur-telur burung maleo dari Kecamatan Batui di Kabupaten Banggai menuju Keraton Banggai di Kabupaten Banggai Laut.Tradisi yang mencerminkan kekuatan ikatan persaudaraan warga Banggai itu masih dilestarikan hingga sekarang.

Baca juga: Tradisi Malam Laila di Banggai

 

Pewarta : Stevan Pontoh, Rolex Malaha
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar