Setelah bentrokan, Sudan kerahkan pasukan ke Darfur Barat

id otoritas sudan,sudan barat,bentrokan mematikan,al junaynah

Seorang pria terlihat di dalam sebuah rumah yang terbakar hangus saat bentrok antara pengembara dan penduduk di desa Deleij, terletak di lokalitas Wadi Salih, Central Darfur, Sudan, Selasa (11/6/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/wsj/cfo

Khartoum (ANTARA) -
Otoritas Sudan akan mengerahkan pasukan militer ke Darfur Barat dan menangguhkan pembicaraan damai dengan kelompok pemberontak selama 24 jam setelah pecahnya bentrokan mematikan di sekitar al-Junaynah, ibu kota Distrik Darfur Barat.

Tidak ada rincian skala penyebaran atau bentrokan di sekitar al-Junaynah, tetapi Menteri Informasi Faisal Saleh mengatakan kepala dewan penguasa transisi Sudan dan perdana menteri akan mengunjungi kota itu.

Pesawat akan dikirim untuk mengevakuasi yang terluka ke ibukota, Khartoum, kata Faisal Saleh.

Seorang warga dari al-Junaynah mengatakan kepada Reuters bahwa kekerasan berkobar setelah seorang tentara dari Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter ditikam hingga mati dengan dua kerabatnya sebagai pembalasan atas insiden di mana penduduk setempat ditabrak mobil.

Pada Senin, kelompok-kelompok Arab menanggapi kematian prajurit itu menyerbu kamp-kamp orang terlantar di dekat al-Junaynah. Mereka membunuh orang dan ternak di al-Junaynah dan tempat pengungsian yang disebut sebagai serangan balas dendam, ujar warga setempat.

Tidak jelas berapa banyak orang yang terbunuh dan terluka. Pemerintah daerah mengumumkan jam malam di Darfur Barat.

Otoritas transisi Sudan, yang mengambil alih kekuasaan setelah mantan Presiden Omar al-Bashir digulingkan pada April setelah pemberontakan rakyat, telah mengadakan pembicaraan dengan kelompok pemberontak untuk mengakhiri konflik di beberapa daerah di negara itu, termasuk Darfur.

Konflik pecah di Darfur pada 2003 setelah sebagian besar pemberontak non-Arab bangkit melawan Khartoum. Hingga 300.000 orang telah tewas dan 2,7 juta orang terlantar, menurut perkiraan PBB.

Pasukan pemerintah dan terutama milisi Arab yang dikenal sebagai Janjaweed - beberapa di antaranya laki-laki kemudian dimasukkan dalam Pasukan Dukungan Cepat (RSF) - dituduh melakukan kekejaman selama konflik, tuduhan yang ditolak oleh pihak berwenang pada saat itu.

Sumber: Reuters
Baca juga: Sudan perpanjang masa gencatan senjata dengan pemberontak
Baca juga: Ratusan orang mengungsi ke pangkalan PBB di Darfur
Baca juga: Tiga orang tewas dalam bentrokan ketika Presiden Sudan kunjungi Darfur

Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar