BATAN mulai studi kelayakan PLTN di Kalimantan Barat

id Anhar Riza Antariksawan

Kepala BATAN Anhar Riza Antariksawan. (Foto : ANTARA/Prisca Triferna).

Jakarta (ANTARA) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memastikan akan memulai studi kelayakan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat pada Semester I 2020.

"Kami akan memulai studi kelayakan untuk daerah Kalimantan Barat tahun ini," kata Kepala BATAN Anhar Riza Antariksawan dalam pertemuan dengan awak media di Jakarta Selatan, Rabu.

Dalam studi kelayakan itu, akan dilakukan survei dan evaluasi tapak untuk melihat tapak tersebut potensial atau tidak untuk dibangun PLTN. Survei ini akan menentukan sejumlah aspek penting antara lain teknologi paling siap dibangun di daerah itu, daya dari PLTN yang akan dibangun, aspek keekonomian dari pembangunan PLTN di wilayah itu, serta penyiapan sumber daya manusia.

Baca juga: Batan: PLTN tidak beroperasi otomatis ketika terjadi gempa

Studi kelayakan itu juga akan melihat pemenuhan syarat 19 item infrastruktur antara lain terkait regulasi, kesiapan sumber daya manusia, jaringan listrik dan kesiapan pendanaan.

Anhar menjelaskan studi kelayakan itu memerlukan waktu 2 hingga 3 tahun, sehingga diharapkan maksimal 2022 sudah diperoleh dokumen hasil studi kelayakan terkait pembangunan PLTN di Kalimantan Barat.

Pemilihan tapak untuk pembangunan PLTN menjadi hal yang sangat krusial untuk mendukung aspek keamanan dan keselamatan. Kalimantan Barat merupakan daerah yang relatif aman dari gempa dan tsunami sehingga potensial dibangun PLTN, namun kajian mendalam terkait studi kelayakan akan dilakukan.

Baca juga: Komersialisasi produk berbasis teknologi nuklir ditingkatkan BATAN

Studi kelayakan di Kalimantan Barat mendapat dukungan dari pemerintah daerah setempat dan Kementerian Riset dan Teknologi. Untuk melakukan studi kelayakan, BATAN akan bekerja sama dengan PT Indonesia Power, dan tidak menutup kemungkinan melibatkan perguruan tinggi setempat.

Hasil studi kelayakan yang komprehensif akan memberikan penilaian layak tidaknya dibangun PLTN di wilayah itu.

"BATAN berkewajiban memberikan informasi dan kajian ilmiah terkait PLTN," tambah Anhar.

Baca juga: Nuklir bermanfaat bagi produktivitas pertanian rakyat, sebut Batan

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar