Dinkes Bantul: Warga jangan kucilkan ODP dan PDP COVID-19

id Dinkes Bantul,penanganan corona,virus corona,corona,covid-19,2019-ncov,novel coronavirus 2019

Kepala Dinkes Bantul dan Kabid Pengendalian Penyakit Dinkes yang juga Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Bantul, DIY. ANTARA/Hery Sidik

Bantul (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta meminta masyarakat selalu menjaga jarak dengan orang lain, namun jangan melakukan pengucilan terhadap orang dalam pemantauan maupun pasien dalam pengawasan virus corona baru (COVID-19).

"Jaga jarak dalam berinteraksi, jangan lakukan pengucilan atau stigmatisasi terhadap ODP maupun PDP dan pelaku perjalanan," kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kabupaten Bantul Sri Wahyu Joko Santosa dalam keterangan tertulis melalui aplikasi pesan singkat di Bantul, Kamis.

Pria yang disapa dokter Oky itu, juga menekankan pentingnya menjaga situasi kondusif di tengah pandemi virus corona jenis baru tersebut.

"Jaga situasi kondusif agar kita bisa berhati-hati dan waspada," kata Oky yang juga Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Bantul tersebut.

Baca juga: Achmad Yurianto: Tanpa keluhan parameter keberhasilan isolasi mandiri

Terkait dengan kasus COVID-19 di Bantul pada Kamis, pukul 16.30 WIB, dia mengatakan, data kasus yang disampaikan adalah pasien yang sedang rawat inap yaitu PDP berjumlah 34 orang, pasien konfirmasi positif lima orang, dan ODP tujuh orang.

"Rumah sakit yang merawat pasien positif adalah Rumah Sakit Panembahan Senopati satu orang, RSUP Sardjito satu orang, Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) Hardjolukito satu orang, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUD) Jogja satu orang, RSUD Sleman satu orang," katanya.

Kepala Dinkes Kabupaten Bantul Agus Budi Raharjo mengatakan terkait dengan adanya pemudik atau warga Bantul yang datang dari luar daerah, pemerintah daerah sudah memberlakukan kepada mereka ketika sampai Bantul harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

"Pemerintah kabupaten, bahkan desa salah satunya di Sumbermulyo sudah melakukan, kalau tidak mungkin (pemudik, red.) di rumah ada 'shelter' (hunian sementara) yang sudah kita siapkan, bahkan beberapa desa juga sudah menyiapkan," katanya.

Baca juga: Praktik jaga jarak fisik terkendala disiplin warga
Baca juga: Dekan: Jaga jarak lebih penting daripada penyemprotan disinfektan

Pewarta : Hery Sidik
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar