BBTMC: Titik panas tetap muncul di tengah pandemi COVID-19

id covid-19,karhutla,hotspot

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto. ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak

Jakarta (ANTARA) - Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto mengatakan titik panas (hotspot) tetap muncul meskipun ada kebijakan pembatasan aktifitas di tengah pandemi COVID-19.

"Apakah di masa pandemi ini kemudian orang diam di rumah tidak membakar, kita tidak menjustifikasi itu tidak men-judge  itu tapi yang terjadi itu ternyata tetap muncul hotspot maupun firespot  yang dilaporkan," kata Seto dalam konferensi video, Jakarta, Rabu.

Dengan kondisi itu, dia mengatakan tim penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) termasuk para Manggala Agni juga tetap bekerja di lapangan untuk memantau dan mencegah terjadinya karhutla.

"Patroli-patroli dengan menggunakan helikopter untuk memantau dari udara juga tetap dijalankan," katanya.

Baca juga: 20 ton garam disiapkan untuk operasi TMC di Riau
Baca juga: Kajian Madani temukan area moratorium hutan dan gambut masih terbakar


Ia menjelaskan, memasuki musim kemarau dan menjelang puncak musim kemarau, maka operasi TMC kembali dilakukan selama periode 30 hari ke depan, dengan rincian 15 hari pertama untuk wilayah Provinsi Riau dan sekitarnya, dan 15 hari selanjutnya untuk Provinsi Sumatera Selatan.

"Setelah itu, rencananya operasi TMC akan dilakukan untuk wilayah Kalimantan," katanya.

Saat musim kemarau, menurut dia, terjadi penurunan tinggi muka air tanah (TMAT) gambut sehingga rentan terbakar saat dalam keadaan lahan gambut mulai mengering.

Untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), maka tim TMC berupaya untuk menciptakan hujan buatan sehingga dapat membasahi lahan gambut dan mencegah kemunculan titik panas.

Baca juga: TMC basahi lahan gambut antisipasi puncak musim kemarau cegah karhutla
Baca juga: Operasi hujan buatan akan digelar 30 hari di Riau dan Sumatera Selatan


Seto mengatakan karhutla di Tanah Air paling tinggi terjadi pada 2015, cukup tinggi di 2019, dan diharapkan pada 2020 akan semakin menurun.

Jadi, sasaran dari TMC adalah daerah-daerah yang memang mengalami penurunan tinggi muka air tanah gambut dan daerah yang berulang terbakar dan banyak titik panas.

"Semoga kali ini bisa menekan terjadinya kemunculan hotspot dan firespot sebagaimana diarahkan ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebelumnya bahwa jangan sampai pandemi COVID-19 yang mengganggu kehidupan masyarakat saat ini akan ditambah dengan bencana asap karhutla," tutur Seto.

Baca juga: Madani sebut lima provinsi punya areal rawan karhutla terluas 2020
Baca juga: Cegah karhutla, perusahaan perlu mulai bergerak urus gambut

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar