Peneliti: Berikan stimulus pajak hanya ke industri yang tak PHK

id stimulus,stimulus pajak,peneliti,industri

Aktivitas produksi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT). (ANTARA/ Biro Humas Kementerian Perindustrian)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Ira Aprilianti mengharapkan stimulus pajak yang diberikan pemerintah dapat diberikan kepada pelaku industri yang bisa menjamin pemberian lapangan kerja.

"Pengurangan pajak harus diberikan pada perusahaan yang menjamin pekerjaan pada buruh, sehingga kebijakan pemotongan pajak dapat berjalan lebih efektif," ujar Ira dalam pernyataan di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, pemberian stimulus secara efektif tersebut dapat memberikan jaminan kepada pelaku industri untuk menekan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

"Perusahaan juga harus memberikan jaminan tetap mempertahankan pekerjanya sampai krisis ini mampu dihadapi," ujar Ira.

Baca juga: Peneliti ingatkan pemberian stimulus harus ada analisa risiko

Selain itu ia mengharapkan pemerintah juga mempertimbangkan stimulus pembayaran pajak bagi UMKM agar tidak terlalu membebani industri kecil.

Ira menegaskan pemberian stimulus itu harus dilaksanakan secara tepat sasaran karena dalam kondisi saat ini anggaran pemerintah terbatas untuk menangani dampak pandemi.

Dari sisi pajak lainnya, Ira merekomendasikan agar pemerintah menghapus sementara pajak konsumsi pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) agar dapat meningkatkan konsumsi masyarakat.

Dengan pengurangan PPN tersebut diharapkan daya beli masyarakat dapat meningkat dan konsumsi rumah tangga dapat mendukung kinerja perekonomian.

"Pemilihan barang konsumsi juga harus difokuskan pada konsumsi barang murah yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat kalangan prasejahtera," ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah telah menaikkan biaya penanganan untuk mengatasi dampak COVID-19 hingga mencapai Rp677,2 triliun.

Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp589,65 triliun dimanfaatkan untuk program pemulihan ekonomi nasional. Dari program itu, senilai Rp123,01 triliun akan digunakan untuk pemberian insentif perpajakan.

Baca juga: Biaya penanganan COVID-19 capai Rp677,2 triliun, kata Menkeu

Pewarta : Satyagraha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar