Basarnas mulai sisir Pantai Tulungagung cari nelayan hilang

id nelayan hilang, kecelakaan laut, basarnas trenggalek

Petugas SAR gabiungan bersama nelayan mengevakuasi pemancing yang ditemukan tewas dan mengambang di perairan Teluk Popoh, Tulungagung Senin (15/6/2020). (Ist)

Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Badan SAR Nasional bersama jajaran pos pantau Angkatan Laut di Pantai Popoh, Senin, mulai melakukan penyisiran mencari satu pemancing dan satu nelayan yang dilaporkan hilang tenggelam tergulung ombak besar di pesisir selatan Tulungagung.

Kepala Basarnas Pos SAR Trenggalek Yoni Fariza mengatakan satu regu saat ini diterjunkan untuk menyisir perairan dan pantai-pantai sekitar Pelabuhan Popoh.

"Fokus penyisiran kami arahkan ke barat, mengikuti arah angin dan arus laut yang berhembus dari arah tenggara menuju barat laut," kata Yoni dikonfirmasi melalui percakapan whatsapp.

Cuaca pada saat awal pencarian disebut sempat mengkhawatirkan, lantaran angin bertiup kencang dan ombak tinggi.

Beruntung pada Senin pagi cuaca cerah sehingga regu Basarnas bisa memulai upaya pencarian menggunakan perahu nelayan dan perahu karet.

Baca juga: Seorang nelayan di Kabupaten Kupang hilang saat melaut

Baca juga: Tim SAR lakukan pencarian nelayan hilang di perairan Buton


Komandan Pos Pantau TNI AL di Pelabuhan Popoh, Peltu Mochamad Iswahyudi mengatakan, sampai saat ini baru satu dari tiga korban laporan tenggelam di perairan Popoh yang ditemukan.

"Kemarin (Ahad, 14/6) satu jenazah nelayan pemancing ditemukan nelayan di sekitar pantai Popoh. Laporan yang kami terima, ada pemancing yang hilang tenggelam. Satu ditemukan, jadi satu masih pencarian," kata Peltu Iswahyudi.

Dua nelayan pemancing asal Lumbang Pasuruan dan warga asli Besole, Tulungagung itu sebelumnya dilaporkan hilang pada Sabtu (13/6) sekitar pukul 15.20 WIB.

Naas terjadi saat keduanya bergerak ke tengah perairan Popoh dengan menggunakan kapal sulawesian warna hijau putih.

Namun, karena sampai pada Ahad (keesokan harinya) tidak kembali, tetangga korban atas nama Sukri melaporkan ke posmat TNI AL popoh pukul 11.30 WIB.

Pada saat itu cuaca hujan dan ombak besar disertai angin, diperkirakan kapal pecah diterjang ombak.

Sore harinya, sekitar pukul 16.15 WIB korban atas nama Abdul Wahid ditemukan nelayan di sekitar dekat perairan Prigi dengan kondisi sudah meninggal.

Sementara untuk korban nelayan atas nama Yopi, sampai saat ini masih dalam pencarian.
 
Suasana di perairan Teluk Popoh, Tulungagung Senin (15/6/2020) (Ist)


Selain insiden yang menimpa kedua pemancing (Yopi dan Abdul Wahid), insiden kecelakaan di tengah laut juga terjadi dua pekan sebelumnya (25 Mei), di sekitar perairan yang sama.

Insiden itu dialami nelayan andon (pendatang) asal Semarang bernama Agus Purwanto (43).

Saat kejadian, sekitar pukul 08.30 WIB, yang bersangkutan beraktivitas merapikan jaring dengan posisi di pinggir lambung kanan geladak utama, dalam proses menunggu antrian untuk proses pemindahan ikan tangkapan dari geladak ke palka belakang.

Kapal dalam posisi berjalan, korban tersebut pada saat itu jongkok di pinggir kapal membelakangi laut. Naas pun terjadi karena saat Agus fokus menata jaring ikan, dari arah belakang datang ombak besar yang langsung menghantam perahu model sulawesian yang dia tumpangi.

Korban tersebut lalu jatuh ke laut dan diperkirakan mengantuk atau kurang konsentrasi.

Selain itu korban tidak begitu mahir berenang karena begitu jatuh di laut sudah dilakukan pertolongan oleh ABK yang lain dengan melempar gabus pelampung, namun korban tersebut tidak bisa meraih pelampung

Karena kapal masih melaju yang dilakukan oleh nahkoda mengurangi kecepatan dan memutar balik kapal untuk mendekati korban dan ABK yang lain (tiga orang) bersiap memberikan pertolongan dengan perlengkapan pelampung.

Namun korban tersebut tidak terlihat di permukaan, maka nahkoda memerintahkan yang lain untuk melakukan pencarian di laut. Korban Agus sejauh ini belum diketemukan. (*)

Baca juga: SAR temukan dua nelayan kapal tenggelam di Wakatobi, lima hilang

Baca juga: 20 ABK kapal nelayan yang hilang di perairan Parigi Moutong selamat

Pewarta : Destyan H. Sujarwoko
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar