Makam di jalan umum Pisangan Lama akibat alih fungsi lahan

id Malam di jalan umum, alih fungsi, keluarga,Pisangan,Makam pisangan

Warga melintas di dekat makam yang berada di jalan umum kawasan Pisangan Lama, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2020). Warga setempat menyebutkan jika makam keluarga itu ada sejak 1940. ANTARA/HO-Kelurahan Pisangan Timur/aa.

Jakarta (ANTARA) - Keluarga almarhum mengemukakan keberadaan sejumlah makam di jalan umum di Pisangan Lama, Pulogadung, Jakarta Timur, terjadi akibat alih fungsi lahan.

"Dulu ada kebun, tanah kosong yang diwakafkan menjadi pemakaman warga, lalu ke sini-sininya muncul kontrakan," kata keluarga almarhum, Safitriani (36) di Jakarta, Rabu.

Perempuan yang disapa Fitri itu adalah cicit dari Almarhum Mardjuki yang makamnya saat ini berada di tepi jalan umum RT 03 RW 04 Pisangan Lama, Kelurahan Pisangan Timur.

Makam kakek buyut Fitri berdampingan dengan makam lainnya atas nama Nasyir. Tidak jauh dari dua makam itu terdapat satu makam lainnya tanpa batu nisan di antara lintasan jalan beraspal.

"Kata nenek saya, makam itu sudah ada sejak 80 tahun yang lalu. Itu pemakaman warga daerah Pisangan. Kan orang Betawi banyak tanahnya," katanya.

Baca juga: Ada makam keluarga di lintasan jalan umum Jakarta Timur
Baca juga: Pedagang pisang Pisangan Timur berharap direlokasi

 
Warga melintas di dekat makam yang berada di jalan umum kawasan Pisangan Lama, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2020). Warga setempat menyebutkan makam keluarga itu ada sejak 1940. ANTARA/HO-Kelurahan Pisangan Timur/aa.

Seiring waktu, kepadatan penduduk di lingkungan setempat mengakibatkan area pemakaman warga beralih fungsi menjadi kawasan padat hunian.

Fitri mengatakan sebagian rumah penduduk di RT 03 RW 04 banyak yang berdiri di atas kuburan, meskipun sebagian jasad telah direlokasi pihak keluarga.

Sejak Fitri kecil, hunian kian bertambah di lokasi itu serta jaringan jalan semakin meluas.

Terkait kesediaan Pemkot Jakarta Timur untuk merelokasi makam, Fitri mengaku tidak berwenang menyampaikan pendapatnya. "Nenek saya masih hidup sampai sekarang, mungkin bisa juga om saya yang berpendapat," katanya.

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar