Ekonomi terbantu bila warga patuhi protokol kesehatan pada normal baru

id csis,protokol kesehatan,normal baru

Petugas medis melakukan pengecekan kesehatan penumpang di bandara. ANTARA/Dokumentasi Humas Angkasa Pura Ii

Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi CSIS Haryo Aswicahyono menilai perlunya untuk terus meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan pada masa normal baru, guna membantu meningkatkan kinerja perekonomian ke depannya.

"Perlu terus menerus ditingkatkan kepatuhan pada pelaksanaan protokol COVID-19 ketika melakukan pergerakan dan bekerja," ujar Haryo dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama tiga pekan telah menghasilkan peningkatan pergerakan manusia, sehingga diharapkan akan mendorong kegiatan ekonomi.
Baca juga: PMI manufaktur naik, Menperin: normal baru geliatkan sektor industri

Kendati demikian, lanjutnya, masih terdapat 13 provinsi yang belum mampu mengimbanginya dengan kondisi kesehatan yang membaik.

Sedangkan untuk 20 provinsi lainnya yang telah berhasil menekan peningkatan kasus COVID-19 diimbau untuk tidak lengah, mengingat peningkatan pergerakan selalu berpotensi kembali meningkatkan penyebaran wabah tersebut.

Selain itu dalam paparannya, pengamat ekonomi CSIS Haryo Aswicahyono menekankan perlunya indikator cepat yang bukan hanya menunjukkan perkembangan aspek kesehatan, namun juga aspek ekonomi seperti indikator pergerakan penduduk sebagai proksi kegiatan ekonomi.
Baca juga: Kemarin pemerintah bahas PJJ permanen, tatanan normal baru desa

Haryo menilai pelonggaran PSBB bukan karena sudah aman, tapi karena keperluan pemulihan ekonomi yang mendesak.

Hal tersebut, masih menurut dia, terutama untuk membantu pemulihan daya beli bagi rakyat kelas menengah ke bawah yang selama ini bergantung pada upah harian atau mingguan.
Baca juga: Masuki normal baru, penciptaan lapangan kerja dibutuhkan

Dalam kesempatan sama, ahli virologi Universitas Udayana yakni Profesor I Gusti Ngurah Mahardika bahwa adanya kemungkinan virus COVID-19 tidak akan hilang dan tetap akan permanen di alam bebas.

"Kondisi normal baru bukan berarti risiko tertular COVID-19 menjadi nihil atau nol persen, tidak mungkin! Virus ini memiliki peluang untuk tetap lestari atau permanen di alam, artinya selalu ada risiko," kata I Gusti Ngurah Mahardika.

Ahli virologi itu juga menekankan pentingnya untuk menggencarkan dan meningkatkan kesadaran publik secara intensif serta efektif melalui pesan-pesan yang jelas dan komprehensif.

Baca juga: Ini fokus aspek keamanan Angkasa Pura II era normal baru

Pewarta : Aji Cakti
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar