ABK WNI tewas, Indonesia minta China hadirkan warganya sebagai saksi

id ABK WNI tewas di kapal China,ABK WNI tewas,kapal ,Lu Huang Yuan Yu 117 ,Lu Huang Yuan Yu 118,Kementerian Luar Negeri RI

Lima tersangka tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dihadirkan saat rilis kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Mapolda Kepri, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (9/7/2020). Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kepri berhasil mengungkap kasus TPPO yang diduga berkaitan dengan pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di kapal Lu Huang Yuan Yu 117 dan 118 berbendera China serta sejumlah kapal asing lainnya. ANTARA FOTO/M N Kanwa/aww.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri meminta Pemerintah China menghadirkan warganya sebagai saksi untuk membantu penyelidikan kepolisian untuk kasus tewasnya seorang warga negara Indonesia di kapal Lu Huang Yuan Yu 118.

"Pihak Kementerian Luar Negeri telah menyampaikan permintaan itu secara resmi, tetapi kami belum mendapatkan respons," kata Direktur Pelindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha, saat pengarahan media di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat.

Walaupun demikian, Kementerian Luar Negeri RI akan terus menunggu surat balasan dari Pemerintah China yang akan disampaikan lewat perwakilannya di Jakarta. "Kami akan terus berkoordinasi," kata Judha.

Tidak hanya melayangkan surat permintaan untuk menghadirkan saksi, Kementerian Luar Negeri RI juga telah mengirim surat pemberitahuan konsuler ke Kedutaan Besar China di Jakarta terkait penahanan seorang warganya yang diduga melakukan penganiayaan terhadap seorang WNI itu.

Kepolisian Daerah Provinsi Kepulauan Riau pada pekan ini menetapkan mandor Kapal Lu Huang Yuan Yu 118, S, sebagai tersangka penganiayaan korban berinisial HA.

Baca juga: ABK WNI ditemukan meninggal dunia di kapal Ikan asing berbendera China

Baca juga: China minta Indonesia ambil tindakan konkret soal tewasnya ABK WNI

Pemeriksaan otopsi pada pekan lalu menunjukkan adanya luka benda tumpul di bagian bibir, dada, dan punggung korban. Namun, luka dan memar itu, menurut kepolisian, tidak menyebabkan kematian.

Kesimpulan awal kepolisian, korban meninggal karena penyakit bawaan. Dari pemeriksaan otopsi, kepolisian menemukan korban memiliki penyakit menahun seperti gangguan fungsi paru-paru, jantung, dan usus buntu.

Pihak Kepolisian masih melakukan pemeriksaan racun secara forensik pada korban. Pemeriksaan racun itu, menurut Polda Kepulauan Riau, membutuhkan waktu satu hingga dua pekan.

Tim Gabungan Polda Kepri, TNI Angkatan Laut, Badan Intelijen Negara, Badan Keamanan Laut, Bea Cukai dan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Republik Indonesia pada pekan lalu mengamankan dua kapal ikan berbendera China, Lu Huang Yuan Yu 117 dan Lu Huang Yuan Yu 118 di perairan Indonesia yang berbatasan dengan Singapura. Dalam kapal Lu Huang Yuan Yu 118, aparat menemukan jasad HA dalam lemari pendingin kapal.

Saat mengamankan dua kapal China itu, tim gabungan juga menyelamatkan 22 anak buah kapal asal Indonesia yang bekerja di Lu Huang Yuan Yu 117 dan Lu Huang Yuan Yu 118.

Sejauh ini, kepolisian telah menginterogasi 15 ABK asal China dan delapan ABK asal Filipina.

Baca juga: Polda Kepri temukan tanda kekerasan pada ABK PMI meninggal

Baca juga: Polda Kepri minta keterangan 23 ABK asing terkait PMI wafat


 

Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar