BMKG: Masyarakat perlu dididik hadapi ancaman bencana hidrometeorologi

id BMKG, Bencana Hidrometeorologi

Staf BMKG memberi penjelasan di kantor BMKG Jakarta, Selasa (14/1/2020). (FOTO ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan masyarakat perlu diedukasi terus tentang ancaman bencana hidrometeorologi sehingga mereka bisa lebih sadar dan melakukan upaya antisipasi lebih dini.

"Jadi saya lihat masyarakat itu harus diedukasi, kita tingkatkan kesadarannya bahwa ancaman bencana hidrometeorologi itu nyata," kata Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG Agie Wandala Putra saat dihubunngi  ANTARA di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan upaya edukasi itu merupakan salah satu langkah antisipasi yang dapat dilakukan pemerintah agar masyarakat sendiri bisa memiliki kesadaran penuh terhadap potensi bencana yang dapat terjadi di lingkungan mereka dan kemudian dapat melakukan upaya antisipasi lebih dini untuk mengurangi kemungkinan dampak.

Bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang yang dapat menyebabkan tanah longsor dan bencana lain itu, menurut Agie, jika diakumulasikan menyebabkan kerugian paling besar dibandingkan dengan bencana lainnya.

Oleh karena itu, langkah antisipasi yang diarahkan untuk menyadarkan masyarakat akan potensi bencana di sekitar mereka dianggap perlu dilakukan guna mengurangi kemungkinan kerugian yang lebih besar.

Ia mengatakan sistem respons terhadap bencana yang sudah diupayakan selama ini sebenarnya sudah sangat baik. Tetapi sayangnya, sistem respons yang sudah baik itu tidak diimbangi dengan kesadaran yang baik pula oleh masyarakat terhadap sistem peringatan dini yang sudah disosialisasikan.

Ia mengatakan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap sistem peringatan dini tersebut kemungkinan dikarenakan masyarakat Indonesia hidup di zona yang nyaman.

"Maksudnya nyaman adalah bahwa kita ke luar rumah tidak akan meninggal karena cuaca. Kalau di daerah lintang tinggi, di daerah-daerah subtropis atau daerah-daerah yang mempunyai musim dingin, kalau kita enggak ngecek info cuaca, suhunya misalnya drop minus 15, itu bisa mengakibatkan kefatalan kalau kita ke luar rumah. Tapi kalau di Indonesia kan tidak, aman-aman saja," katanya.

Meski demikian, hujan lebat yang kerap terjadi di Indonesia masih menjadi ancaman terbesar karena dapat menimbulkan bencana-bencana lain seperti longsor, banjir bandang, angin puting beliung dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, masyarakat perlu diedukasi secara terus menerus sehingga kesadarannya meningkat dan menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan bencana di sekitarnya.

"Jadi yang pertama adalah edukasi ke masyarakat, juga penggerak sistem respons di Indonesia itu harus belajar dan harus diperbaiki juga, baik itu dari level pusat dan juga daerah," katanya.

"Sekarang sudah sangat baik. Tapi terus harus ditingkatkan karena kebanyakan kita agak kurang aware terhadap peringatan dini tersebut," tambahnya.

Dari segi teknologi, ia mengakui teknologi sistem peringatan dini di Indonesia sudah semakin lengkap. Sistem peringatan dini di Indonesia bahkan juga menjadi referensi bagi negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, seperti Timor Leste, Malaysia, Fiji, Solomon dan Tonga.

Namun demikian, kesadaran dari semua pihak untuk bersama-sama melakukan antisipasi terhadap ancaman bencana dinilai masih kurang, sehingga bencana yang terjadi masih sering mengakibatkan dampak dan kerugian cukup besar.

"Sekarang tinggal 'action'," demikian Agie Wandala Putra.

Baca juga: BMKG akui peringatan dini cuaca belum maksimal cegah adanya korban

Baca juga: BNPB: Terjadi 652 bencana hingga Februari 2020

Baca juga: PMI terapkan respon berbasis forecast hadapi bencana hidrometeorologi

Baca juga: BNPB imbau masyarakat siaga kemungkinan bencana hidrometeorologi



Pewarta : Katriana
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar