Lewat BISA, Kemenparekraf siapkan destinasi Jabar masuki adaptasi baru

id Destinasi jabar,covid-19,adaptasi kebiasaan baru,kemenparekraf,menparekraf,pariwisata

Gerakan bersih-bersih di salah satu destinasi wisata di Provinsi Jabar sebagai persiapan memasuki masa adaptasi kebiasaan baru. ANTARA/HO-Birkom Kemenparekraf

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah destinasi wisata di Jawa Barat (Jabar) dipersiapkan secara khusus untuk dapat memasuki masa adaptasi kebiasaan baru melalui gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman).

Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf/Baparekraf Wawan Rusiawan dalam keterangannya di Jakarta, Senin, mengatakan penyiapan destinasi yang memenuhi faktor kebersihan, kesehatan, keamanan, dan keberlangsungan lingkungan menjadi hal penting dalam menyambut wisatawan pada era adaptasi kebiasaan baru agar kegiatan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat kembali produktif, namun tetap aman dari COVID-19.

"Pariwisata adalah sektor yang paling terdampak COVID-19, namun kita harus menyikapi dengan baik. Gerakan BISA dapat menjadi acuan bagi pelaku pariwisata untuk tetap menerapkan protokol kesehatan," kata Wawan Rusiawan saat kegiatan mewakili Deputi Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf.

Baca juga: Kemenparekraf yakinkan berwisata aman di adaptasi kebiasaan baru

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Komisi X DPR/RI menggelar gerakan BISA di Bandung, Jawa Barat, pada 25-26 Juli 2020 sebagai upaya menyiapkan destinasi wisata dalam memasuki masa adaptasi kebiasaan baru.

Berlokasi di destinasi wisata Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda Bandung, sekitar 100 pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dilibatkan untuk melakukan bersih-bersih di taman, sungai, dan sekitar Prasasti Curug Dago, melakukan penataan papan penunjuk arah, serta penyemprotan disinfektan pada lokasi destinasi. Semua kegiatan ini dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan.

Kemenparekraf/Baparekraf sudah menyiapkan berbagai hal mulai dari kebijakan dan program-program untuk terus dapat mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Untuk itu, dibutuhkan dukungan dari semua pihak agar bisa bersama-sama dalam menciptakan budaya bersih, indah, sehat, dan aman di setiap destinasi wisata, karena penting bagi sektor ini untuk membangun kepercayaan wisatawan kembali.

Wawan melanjutkan sebagai panduan standar operasional prosedur, Kemenparekraf/Baparekraf juga telah mengeluarkan buku panduan penerapan protokol kesehatan untuk berbagai sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, yang merupakan turunan dari Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Wawan menjelaskan pelibatan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dalam gerakan BISA juga merupakan upaya perlindungan sosial bagi pekerja dan pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif.

Anggota Komisi X DPR Ledia Hanifa Amaliah dalam kegiatan tersebut menyampaikan pentingnya gerakan BISA dalam membangkitkan optimisme pelaku parekraf dalam menyambut pariwisata pada tatanan hidup baru.

"Dalam masa adaptasi kebiasaan baru, kita semua perlu mengubah semua kebiasaan kita. Gerakan BISA diharapkan mampu membangkitkan optimisme masyarakat untuk sama-sama menyambut kembali kebangkitan pariwisata di Bandung khususnya dan di Jawa Barat pada umumnya pada saat dibukanya destinasi wisata pada masa adaptasi kebiasaan baru ini, sehingga kepercayaan wisatawan dapat terwujud bahwa Bandung merupakan destinasi yang aman dan nyaman untuk dikunjungi," ujar Ledia.

Wakil Bupati Kabupaten Bandung Gun Gun Gunawan menyampaikan ucapan terima kasih atas dipilihnya destinasi wisata Curug Dago, di Kawasan Tahura Ir. H.Juanda, Bandung, sebagai tempat pelaksanaan gerakan BISA oleh Kemenparekraf/Baparekraf, sekaligus
memberikan dukungan dan semangat kepada 100 orang pekerja yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Ia menyebutkan bahwa gerakan BISA ini sejalan pula dengan program pemerintah di daerah, dengan penerapan protokol kesehatan diharapkan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dapat beradaptasi dengan kebiasaan baru menuju masyarakat yang produktif dan aman, serta mendukung destinasi pariwisata dalam menyongsong tatanan kehidupan baru pascapandemi COVID-19.

Baca juga: Kemenparekraf-Australia perkuat kerja sama pariwisata di adaptasi baru
Baca juga: Kemenparekraf gulirkan Gerakan BISA di desa wisata Tete Batu Lombok

Pewarta : Hanni Sofia
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar