Warga Shenzhen cemas, sopir truk Hong Kong-China positif corona

id COVID-19 Hong Kong,gelombang baru COVID Hong Kong,gelombang baru corona di China,sopir truk Hong Kong positif corona, kasus COVID di Xinjiang, kasus C

Seorang warga menggunakan pakaian yang melindungi mereka dari sinar matahari, di tengah wabah virus corona (COVID-19), di Beijing, China, Kamis (16/7/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter/AWW/djo (REUTERS/THOMAS PETER)

Jakarta (ANTARA) - Warga Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, cemas setelah seorang sopir truk pengangkut barang di jalur Hong Kong-China dinyatakan positif COVID-19.

Informasi sejumlah media di China, Selasa, sopir truk asal Hong Kong bermarga Zhu yang dinyatakan positif corona pada Rabu (22/7), ternyata beberapa kali mengangkut barang ke Shenzhen dan Dongguan, Provinsi Guangdong.

Zhu memasuki Shenzhen, kota di tenggara daratan China yang berbatasan langsung dengan Hong Kong, sejak 18 Juli setelah para sopir truk dibebaskan dari kewajiban tes asam nukleat karena telah menjalani masa karantina selama 14 hari di Hong Kong.

Namun setelah kasus Zhu itu, maka para sopir truk kembali diwajibkan menjalani tes COVID-19 tersebut. Sebanyak 5.000 sopir truk telah menjalaninya sejak Kamis (23/7).

Baca juga: Pasien corona usia 65 tahun di Wuhan pulih usai cangkok paru-paru
Baca juga: China syaratkan penumpang pesawat buktikan negatif COVID-19


Pemerintah Kota Shenzhen juga sudah tidak lagi mengakui hasil karantina 14 hari di Hong Kong.

Tes terhadap ratusan warga Shenzhen dan Dongguan untuk mengidentifikasi kasus tanpa gejala dan menghindari meluasnya penularan wabah COVID-19 gelombang berikutnya.

Otoritas kesehatan di Kota Shenzhen mendapati sembilan orang telah melakukan kontak dekat dengan Zhu. Delapan orang dinyatakan negatif, sedangkan satu lainnya sampai saat ini belum keluar hasil tesnya.

Sejumlah masyarakat mendesak penutupan jalur distribusi barang yang menghubungkan Hong Kong dengan Shenzhen.

Namun Wakil Dekan Jurusan Kesehatan Masyarakat di Peking University, Wang Peiyu, menganggap desakan tersebut sangat tidak realistis.

Yang lebih realistis adalah mencegah penularan dengan melakukan identifikasi kasus tanpa gejala dan mengulang tes sesuai kebutuhan untuk menghindari kemungkinan hasil tes negatif palsu.

Saat memasuki wilayah Shenzhen, Zhu menunjukkan hasil tes negatif sehingga mungkin saja hasil itu palsu karena menurut Wang 10 persen hasil tes ditengarai palsu. 

Baca juga: China konfirmasi 46 kasus baru corona, 22 diantaranya di Xinjiang
Baca juga: Satu lagi pasar ikan China tutup setelah ditemukan kasus baru corona

Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar