Pembeli Amerika Serikat inginkan mebel asal Solo

id Kadin, mebel

Wakil Ketua Kadin Kota Surakarta David R Wijaya (ANTARA/Aris Wasita)

Solo (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surakarta mencatat adanya permintaan mebel dari pasar Amerika Serikat seiring dengan mulai menggeliatnya perekonomian meski masih pandemi COVID-19.

"Akhir-akhir ini untuk mebel cukup menggeliat seiring dengan mulai masuknya pemesanan dari Amerika Serikat," kata Wakil Ketua Kadin Surakarta David R Wijaya di Solo, Kamis.

Bahkan, menurut dia, bagi beberapa produsen, jumlah pesanan yang masuk dari pasar ini bisa dua kali lipat dibandingkan biasanya.

"Ada informasi mereka (pembeli dari Amerika Serikat) ingin mengamankan stok untuk tahun depan. Jadi saat ini pesanan mulai masuk," katanya.

Menurut dia, jika melihat tren di tahun sebelumnya, musim penjualan mebel terjadi sekitar bulan Maret dan September. Bahkan, pada saat itu banyak terselenggara pameran mebel baik skala nasional maupun internasional.

"Pada momen itulah para 'buyer' (pembeli) mencari produk-produk mebel yang mereka inginkan. Baru setelah bulan-bulan tersebut ramai pemesanan," katanya.

Ia berharap mulai menggeliatnya pasar mebel di Amerika Serikat bisa diikuti oleh Eropa mengingat kawasan tersebut juga memiliki potensi pasar cukup bagus.

"Kalau saat ini pengiriman per bulan sekitar 300 kontainer khusus dari Solo. Harapannya angka ini bisa naik lagi," katanya.

Meski mulai membaik, dikatakannya, angka ini belum mampu menyamai permintaan mebel dari pasar asing ke Indonesia di sekitar tahun 2000. Menurut dia, pada saat itu dalam satu bulan para pelaku usaha mebel di Kota Solo bisa memberangkatkan hingga 1.000 kontainer ke luar negeri.

"Ya kalau saat ini selain karena pandemi, perekonomian juga sedang lesu. Meski demikian, memang persaingan dengan negara produsen cukup tinggi," katanya.

Ia mengatakan jika sebelum pandemi COVID-19 angka transaksi komoditas mebel Kota Solo khusus untuk pasar ekspor bisa mencapai 2 miliar dolar AS, saat ini hanya sekitar 1,8 miliar dolar AS.

"Padahal Malaysia bisa 5 miliar dolar AS dan Vietnam sudah 7 miliar dolar AS. Jadi memang banyak hal yang harus dibenahi," katanya.

Baca juga: RI dinilai tertinggal dalam bisnis kayu dan mebel dunia
Baca juga: Asmindo: Peluang ekspor mebel Indonesia cukup besar di 2020

Pewarta : Aris Wasita
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar