UNHCR investigasi kaburnya pengungsi Rohingya di Lhokseumawe

id Aceh,UNHCR,Rohingya,Lhokseumawe,pemerintah aceh,provinsi aceh,pemprov aceh

Pengungsi Rohingya. (ANTARA/Rahmad)

Banda Aceh (ANTARA) - Lembaga PPB untuk pengungsian United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) menginvestigasi kaburnya imigran Myanmar etnis Rohingya yang selama ini ditampung di BLK Kota Lhokseumawe, Aceh..

Kepala Perwakilan UNHCR di Indonesia Ann Maymann di Lhokseumawe, Rabu, mengaku kaget menerima informasi kaburnya pengungsi Rohingya bernama Tasfiah bin Salamatullah (17).

"UNHCR akan terus melakukan penyelidikan dan investigasi dengan beberapa instansi terkait menyangkut kaburnya Tasfiah bin Salamatullah," kata Ann Maymann.

Baca juga: Polres Lhokseumawe perketat pengawasan pengungsi Rohingya

Ann Maymann menyebutkan UNHCR sudah berkoordinasi dengan kepolisian dalam meningkatkan upaya pencarian dan investigasi seperti layaknya pencarian orang hilang.

Kami belum mengetahui motif atau alasan kaburnya gadis remaja tersebut. Kami masih mendalami apakah pengungsi Rohingya itu kabur karena sukarela atau dipaksa seseorang," kata Ann Maymann.

Ann Maymann mengatakan pihaknya juga telah menghubungi keluarga Tasfiah bin Salamatullah di Malaysia dan Bangladesh untuk mencari informasi apakah keluarganya mengetahui keberadaan wanita muda tersebut.

"Kami juga sudah berkomunikasi dengan bibinya yang berada di BLK Lhokseumawe. Namun tidak ada seorang pun mengetahui keberadaan Tasfiah. Kami juga khawatir terjadi sesuatu tidak diinginkan menimpa Tasfiah," kata Ann Maymann.

Baca juga: ASN dan guru di Aceh Besar bantu pengungsi Rohingya

Terkait nasib pengungsi Rohingya, Ann Maymann mengatakan saat ini tidaklah mungkin mereka dipulangkan ke negaranya, mengingat konflik di Myanmar.

"Kemungkinan mereka akan tinggal dalam waktu yang cukup lama di sini. Tidak aman jika para imigran tersebut dipulangkan ke negaranya," kata Ann Maymann.

Ann Maymann mengatakan pihaknya berupaya memberikan pelatihan-pelatihan pengembangan ekonomi atau keahlian dan juga pelatihan bahasa Indonesia kepada mereka.

"Dengan pelatihan tersebut diharapkan mereka bisa mandiri. Kami juga berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Aceh, yang menerima mereka," kata Ann Maymann.

Baca juga: 99 pengungsi Rohingya di Aceh resmi dilindungi UNHCR
Baca juga: Wabup ajak semua komponen di Aceh Besar bantu Rohingya
Baca juga: Menlu sebut 99 pengungsi Rohingya di Aceh negatif COVID-19

Pewarta : M.Haris Setiady Agus
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar