Pemerintah turunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020

id RAPBN 2021,Nota Keuangan,Pidato Kepresidenan,Pertumbuhan ekonomi,sri mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. ANTARA/instagram @smindrawati/pri.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemerintah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2020 dari semula di kisaran minus 0,4 persen hingga plus 2,3 persen menjadi minus 1,1 persen sampai plus 0,2 persen.

"Perkiraan terakhir yang kita lakukan sesudah melihat realisasi kuartal II dan angka pada Juli maka kita perkirakan untuk pertumbuhan 2020, range-nya ada di minus 1,1 persen hingga 0,2 persen," katanya dalam konferensi pers RUU APBN 2021 dan Nota Keuangan di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Presiden Jokowi: Ekonomi RI masih berpeluang kembali ke tren positif

Sri Mulyani mengatakan penurunan proyeksi tersebut dilakukan dengan melihat realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun ini yang terkontraksi hingga 5,32 persen (yoy).

"Artinya, agak bergeser ke arah negatif atau mendekati nol karena kita melihat bahwa tekanan di kuartal kedua sangat dalam," ujarnya.

Sri Mulyani menuturkan kontraksi yang sangat dalam pada kuartal II 2020 memberikan peringatan kepada pemerintah supaya tetap hati-hati dalam menahan dampak COVID-19 sehingga kuartal III dan IV akan dikelola dengan baik.

"Faktor-faktor untuk kuartal ketiga harus betul-betul diusahakan. Tidak hanya tergantung dari pemerintah meskipun pemerintah merupakan pemegang peran yang cukup besar dalam pemulihan ekonomi," katanya.

Ia menjelaskan proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang cukup dalam untuk tahun ini yaitu antara minus 1,3 persen hingga tidak tumbuh atau nol persen.

Sementara konsumsi pemerintah untuk tahun ini diperkirakan tumbuh antara 2 persen hingga 4 persen.

Untuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi juga diperkirakan masih dalam kisaran zona negatif antara minus 4,2 persen hingga minus 2,6 persen.

Kemudian prediksi ekspor dan impor turut mengalami tekanan masih dalam zona negatif yaitu minus 5,6 persen hingga minus 4,4 persen untuk ekspor dan minus 10,5 persen sampai minus 8,4 persen untuk impor.

"Tentu, kita akan melihat terutama pada pencapaian kuartal III untuk melihat proyeksi 2020 ini," tegasnya.

Sri Mulyani melanjutkan dengan ketidakpastian pada 2020 yang masih berlangsung hingga akhir tahun, maka proyeksi ekonomi untuk tahun depan akan sangat bergantung pada penanganan COVID-19.

"Meskipun, diperkirakan pulih tapi dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk disiplin protokol kesehatan dan ketersediaan atau penemuan vaksin pada 2021," ujarnya.

Baca juga: Presiden Jokowi targetkan pertumbuhan ekonomi 4,5-5,5 persen pada 2021
Baca juga: Pemerintah pacu penyerapan anggaran Rp1.700 triliun hingga akhir tahun

Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar