Sumber air Camplong terus menurun akibat dampak kekeringan

id ntt ,kupang

Dokumen - Warga amndi dan mencuci pakaian di kolam yang merupakan sumber mata air Oenaek, Camplong. ANTARA/Benny Jahang

Kupang (ANTARA) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur menyebutkan debit sumber air di Camplong dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Camplong Kabupaten Kupang semakin menurun sebagai dampak musim kemarau yang melanda daerah itu.

"Bencana kekeringan yang selalu menimpa daerah ini berdampak pada menurunnya debit air di mata air Camplong," kata Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara ketika dihubungi di Kupang, Senin, terkait berkurangnya air pada sumber mata air Oenaek Camplong.

Baca juga: Pemkab Garut siap beli sumber mata air untuk atasi kekeringan

Ia mengatakan penurunan volume sumber mata air Oenaek di Camplong itu sudah berlangsung selama lima tahun terakhir saat daerah itu dilanda kekeringan.

Mata air Oenaek di kawasan wisata alam Camplong memiliki kapasitas 5 lt/dtk dengan kapasitas produksi sebesar 4 lt/dtk.

Baca juga: Kementerian PUPR imbau pengembang properti menjaga sumber air baku

Pada musim kemarau kapasitas produksi pada sumber air bersih untuk kebutuhan masyarakat di Camplong itu menurun menjadi 3 lt/dtk.

Ia menjelaskan, penurunan debit air pada sumber Air Oenaek masih pada tingkat kewajaran karena kondisi suhu udara yang panas dan struktur tanah di Camplong terdiri dari banyak batu karang sehingga memudahkan air cepat menyerap.

Baca juga: Akademisi: Mitigasi kekeringan perlu disiapkan jelang puncak kemarau
Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara (kanan) menyerahkan anakan tanaman kepada masyarakat untuk ditanam di sekitar kawasan TWA Camplong. ANTARA/ Benny Jahang

Menurut Timbul Batubara, BKSDA NTT terus berupaya menjaga ekosistem di kawasan wisata alam Camplong dengan melakukan penghijauan berupa penanaman pohon, sehingga debit air terus terjaga.

"Kami berharap masyarakat Camplong juga ikut membantu pemerintah dengan menjaga ekosistem di sekitar kawasan itu sehingga menjadi kawasan yang indah bersih dan tidak membakar lahan di sekitar itu demi menjaga kelestarian alam yang ada,"tegas Timbul Batubara.
 

Pewarta : Benediktus Sridin Sulu Jahang
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar