dr Tirta: Terapkan kearifan lokal untuk kampanye COVID-19

id Kearifan lokal,kampanye masker,pakai masker,dr tirta

Dokter sekaligus relawan COVID-19 di Tanah Air dr Tirta. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Dokter sekaligus relawan COVID-19 di Tanah Air dr Tirta Mandira Hudhi mengatakan penerapan dan pendekatan kearifan lokal perlu dilakukan untuk mengkampanyekan penanganan COVID-19.

"Sebagai contoh di Surabaya. Kita datang ke sana serta mengevaluasi dan melakukan pendekatan kearifan lokal dengan melibatkan bonek," kata dia diskusi daring dengan tema suka duka dokter dan relawan dalam menyosialisasikan gerakan pakai masker yang dipantau di Jakarta, Sabtu.

Kejadian di Surabaya, ujar dr Tirta, banyak masyarakat tidak patuh penerapan protokol kesehatan terutama penggunaan masker. Hal itu terjadi karena adanya informasi hoaks yang mengatakan COVID-19 hanya sebuah konspirasi.

Baca juga: Wakapolri: Masker harus jadi gaya hidup baru masyarakat

"Setelah mengetahui masalahnya, kita berkoordinasi dengan bonek dan membagikan masker," ujar dia.

Tidak hanya di Surabaya, pendekatan kearifan lokal juga dilakukan dr Tirta di Jakarta, Bali dan daerah lainnya.

Oleh karena itu, agar kampanye penanganan COVID-19 bisa menyentuh hingga lapisan terbawah masyarakat, maka pendekatan menggunakan kearifan lokal perlu dilakukan.

Setiap daerah, ujar dia, memiliki kearifan lokal yang berbeda. Hal itu membuat pendekatan kampanye penanganan COVID-19 juga berbeda.

Sebagai contoh sosialisasi penggunaan masker di Jakarta tidak bisa dengan cara berdebat atau represif kepada masyarakat. Sebaliknya hal itu mungkin bisa dilakukan di Surabaya.

"Kalau di Surabaya agak keras sedikit tidak masalah. Contohnya Bung Tomo yang berbicara lantang dan keras melalui radio," katanya.

Baca juga: Ada keluhan masker sebabkan mata kering, apa sebabnya?

Contoh lainnya di Bali, tepatnya Buleleng dimana pendekatan yang dinilai paling pas untuk mengkampanyekan gerakan pakai masker ialah melibatkan pecalang atau semacam polisi adat Bali.

Bahkan, di Bali, masyarakat di sana lebih patuh pakai masker dibanding menggunakan helm. Sebab, apabila tidak menggunakan masker akan ada saksi "push up" dan denda.

"Di Jakarta, tidak bisa pakai denda. Harus pakai medsos dengan menggunakan konten kreatif," katanya.

Kemudian, di Yogyakarta pendekatan kearifan lokal bisa melibatkan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan UMKM.

"Cara paling efektif agar masyarakat gunakan masker ialah kearifan lokal," ujar dr Tirta.

Baca juga: Diiringi Rian D'masiv, Dirlantas Polda Metro Jaya bagikan masker
Baca juga: Kabupaten Bekasi jalankan Genggam untuk cegah penularan COVID-19
Baca juga: Ribuan warga Jakarta Barat terjaring razia masker

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar