FTUI: Pandemi COVID-19 buka peluang "redesign" ibu kota negara

id pandemei covid,ibu kota negara,UI,FTUI,UI Depok

Gedung Rektorat UI. (ANTARA/Foto: istimewa)

Depok (ANTARA) - Pakar Perancangan Kota Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Ir. Antony Sihombing MPD., Ph.D mengatakan pandemi COVID-19 ini menjadi kesempatan baik bagi kita untuk kembali mendefinisikan rancangan sebuah kota (redesign) yang baik, agar sesuai dan siap dengan fenomena pandemi, khususnya pada ibu kota negara.

"Para ahli dan perancang kota tentunya punya visi bagaimana proses penyesuaian itu akan tetap menjaga bahkan meningkatkan kualitas ibu kota negara yang baru," kata Antony Sihombing dalam keterangannya, Selasa.

Selain itu, konsep smart city tentunya memainkan peranan penting dalam kehidupan di era adaptasi kebiasaan baru. Penggunaan Information Technology (IT) dan Artificial Intelligence (AI) yang semakin maju tentunya turut menentukan kota-kota di masa depan.

"Arsitek dan perencana kota juga berhubungan dengan bidang kesehatan. Perancangan yang kami buat diarahkan untuk membuat tempat kehidupan manusia yang memenuhi kesehatan masyarakat, nyaman dan aman.

Baca juga: Fokus tangani COVID, pemerintah tak anggarkan proyek ibu kota baru

Baca juga: Jatuh bangun transportasi publik Ibu Kota di tengah badai COVID-19


Menurut dia kebijakan physical distancing juga mengubah standar ruang kerja dan dalam konteks yang lebih luas, mengubah nilai ekonomi suatu bangunan. Faktor risiko penyebaran penyakit menjadi penting dalam menentukan arah bisnis perkantoran dan retail secara signifikan.

Ia juga menguraikan bahwa bangunan-bangunan yang ada di kota perlu adaptasi kembali penggunaannya (adaptive reuse). Menurutnya, Kini tingkat hunian perkantoran, pertokoan/mal di perkotaan menurun drastis.

Maka kita perlu mempertimbangkan kembali fungsi ruang kantor, ruang aula, auditorium, cinema besar harus menjadi apa? Misalnya, dengan berkurangnya penggunaan lapangan parkir mobil (terbuka) akibat pembatasan protokol kesehatan, perlu dipikirkan adaptive reuse untuk fungsi lain, seperti drive-in cinema atau drive through sunday market untuk waktu-waktu tertentu. Serta memperbanyak taman-taman kota, RPTRA, dan mengarahkan pembangunan berorientasi lingkungan hijau dan biru.

Baca juga: Pandemi dan kemampuan adaptasi

Baca juga: Psikolog: Pembatasan sosial ubah perilaku sosial dengan adaptasi cepat

Pewarta : Feru Lantara
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar