Awak kapal yang kandas terdampar di Selaru, Kepulauan Tanimbar

id kapal kandas,kecelakaan kapal,kecelakaan perairan

KM Maju Lestari XVI di pesisir pantai Desa Fursui, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Jumat (18/9/2020). Kapal itu kandas setelah menabrak karang pada 27 Agustus 2020 dan awaknya terdampar di Selaru. (ANTARA/Simon Lolonlun)

Saumlaki (ANTARA) - Awak kapal penangkap cumi-cumi yang kandas terdampar di Desa Fursui, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Kapal Motor (KM) Maju Lestari XVI asal Cilacap, Jawa Tengah, kandas di perairan Desa Fursui pada 27 Agustus 2020 dan sampai sekarang 28 anak buah kapal tersebut masih berada di wilayah Selaru, menumpang di rumah penduduk setempat.

Saat ditemui di Desa Fursui, Jumat, beberapa anak buah kapal menuturkan bahwa sebelum kapal kandas nakhoda mematikan perangkat Global Positioning System (GPS).

Mereka mengatakan bahwa sebelum kandas posisi kapal lebih dekat dengan daerah Dobo di Kepulauan Aru, namun nakhoda justru memilih menuju Kepulauan Tanimbar yang jaraknya lebih jauh.

Beberapa anak buah kapal yang berada di Desa Fursui juga mengatakan bahwa sebelum kandas karena menghantam karang, kapal dalam kondisi baik, tidak mengalami kerusakan.

Awak kapal KM Maju Lestari XVI yang berada di Selaru merasa ditelantarkan oleh kapten kapal dan berharap pemerintah daerah setempat membantu mereka pulang ke daerah asal.

Mereka juga berharap kepolisian memeriksa nakhoda kapal yang bernama Buyung karena menilai kelalaiannya menyebabkan kapal mengalami kecelakaan.

Saat dimintai keterangan, Buyung memilih lebih banyak diam. Dia tidak bersedia menjelaskan kronologi peristiwa nahas tersebut, hanya mengatakan bahwa kapalnya berukuran panjang 25 meter dan lebar lima meter serta berkapasitas muat 55 ton.

Kanit Intel Polsek Selaru Brigpol Coosye Rieuwpassa secara terpisah menyatakan bahwa kepolisian masih melakukan pemeriksaan untuk menyelidiki penyebab kecelakaan kapal tersebut, termasuk meminta keterangan dari nakhoda dan anak buah kapal.

"Kami juga mendalami informasi dari kru kapal bahwa GPS sengaja dimatikan oleh nakhoda sebelum kapalnya menghantam karang. Saat pemeriksaan kapal peralatan GPS tidak ada," katanya.

Baca juga:
Kapal pengangkut 1.100 ton pupuk urea karam di Sungai Kapuas
Dua kapal kargo kandas di perairan Batam

Pewarta : Jimmy Ayal
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar