Kematian akibat COVID-19 di dunia melebihi satu juta

id kematian akibat covid 19,virus corona,who,sekjen pbb antonio guterres,johns hopkins university

Pemakaman pasien COVID-19. (ilustrasi). (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Ankara (ANTARA) - Jumlah kematian akibat virus corona baru di seluruh dunia telah melampaui satu juta, sementara jumlah kasus di atas 33 juta pada Senin (28/9), menurut data Johns Hopkins University, Amerika Serikat (AS).

Sementara AS memimpin dengan lebih dari 7,1 juta kasus dan 205.000 kematian, Brazil telah kehilangan 142.000 orang dengan lebih dari 4,7 juta kasus yang dilaporkan, dan di India lebih dari 95.000 orang meninggal dalam lebih dari enam juta kasus.

Sementara China mencatat sekitar 90.000 kasus dan 4.700 kematian, dan di Turki keseluruhan kasus mencapai 315.800 dengan 8.062 kematian pada Senin.

Tak lama setelah jumlah korban meninggal dunia akibat penyakit itu mencapai 1.000.555, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut jumlah besar baru itu "sebuah tonggak yang menyakitkan" dan mengatakan "itu adalah angka yang mematikan pikiran."

Memperhatikan bahwa mereka yang meninggal adalah ayah dan ibu, istri dan suami, saudara laki-laki dan perempuan, teman dan kolega, kepala PBB tersebut mengatakan "rasa sakit telah berlipat ganda dengan kebuasan penyakit ini."

"Bagaimana kamu mengucapkan selamat tinggal tanpa berpegangan tangan, atau memberikan ciuman lembut, pelukan hangat, bisikan terakhir 'Aku mencintaimu'?", kata Guterres.

Menurut dia, penyebaran virus masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, sementara banyak orang telah kehilangan pekerjaan, terganggunya pendidikan, serta banyak lainnya menghadapi pergolakan hidup.

Terdapat lebih dari 170 vaksin yang menjadi kandidat untuk penyembuhan COVID-19 yang perkembangannya dipantau oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dari jumlah tersebut, 142 kandidat vaksin berada pada fase praklinis dan belum diujicobakan pada manusia. Sementara 29 kandidat di antaranya berada di Fase 1 dan diujicoba dalam skala kecil, 18 kandidat berada di Fase 2 dengan peningkatan keamanan, serta sembilan kandidat telah berada di Fase 3 dan diujicoba dengan skala besar. Namun, belum ada vaksin yang disetujui untuk penggunaan umum.

China telah menggunakan vaksin COVID-19 eksperimental pada ribuan orang sejak Juli melalui program darurat, dan saat ini memiliki 11 vaksin dalam uji klinis dan empat di Fase 3.

Dokter Turki pada Senin memberikan suntikan pertama vaksin virus corona kepada petugas kesehatan, ketika Fakultas Kedokteran Cerrahpasa Universitas Istanbul telah memulai uji coba Tahap 3.

WHO memperkirakan vaksinasi luas di seluruh dunia paling cepat dapat dilakukan pada pertengahan 2021.

Sampai vaksinasi yang berhasil dikembangkan dan didistribusikan ke seluruh dunia, sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa Vitamin D mampu mengurangi risiko infeksi COVID-19 dan risiko kematian terhadap mereka yang membawa virus tersebut.

"Direkomendasikan bahwa meningkatkan status vitamin D pada populasi umum dan khususnya pasien rawat inap memiliki potensi manfaat dalam mengurangi keparahan morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan penularan COVID-19," berdasarkan sebuah studi yang dilakukan oleh 11 peneliti dan dipublikasikan di jurnal sains PLOS One pada Jumat (25/9).

Makanan dengan sumber vitamin D tertinggi adalah ikan, hati sapi, keju, kuning telur. Setiap orang membutuhkan 1.000-1.300 miligram vitamin D setiap hari, menurut WebMD.com.

Baca juga: India laporkan kematian harian COVID-19 terendah sejak 3 Agustus

Baca juga: Kasus infeksi virus corona Amerika Serikat lampaui 7 juta


Sumber: Anadolu

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar