Menristek: Pembangunan di wilayah rawan gempa harus lebih hati-hati

id menristek,rawan gempa,bambang brodjonegoro

Menristek/Badan Ristek dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengikuti rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2020). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc (ANTARAFOTO/PUSPA PERWITASARI)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pembangunan di daerah rawan bencana seperti gempa dan tsunami harus dilakukan hati-hati dan dengan ekstra proteksi agar tidak menimbulkan kerugian yang besar jika terjadi bencana.

"Memang adanya potensi gempa ini harus menjadi perhatian kita karena kalau daerahnya itu secara ekonomi berkembang pesat maka otomatis ada konsentrasi dari penduduk yang tinggal di situ, tentunya kita tidak ingin penduduk dalam jumlah besar terekspos dengan risiko bencana," kata Bambang dalam acara virtual Keterangan Publik: Risiko Tsunami di Selatan Jawa, Jakarta, Rabu.

Baca juga: ITB: Potensi tsunami 20 meter terjadi jika dua segmen megathrust pecah

"Makanya pembangunan baik di barat Sumatera maupun bagian Selatan Pulau Jawa harus dilakukan secara lebih hati-hati dan dengan ekstra proteksi," lanjut Bambang.

Dia menuturkan menurut penjelasan Angkasa Pura, Bandar Udara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo sudah didesain agar kuat terhadap kekuatan gempa besar tertentu dan sudah didesain pula di gedung terminal untuk mitigasi terhadap risiko tsunami.

"Jadi kuncinya adalah kita bisa membangun tetapi mungkin dengan tingkat kecepatan yang tidak sama dengan daerah seperti pantai utara Pulau Jawa maupun pantai timur Sumatera dan harus ekstra proteksi dari segi bangunannya dari segi misalkan perhatian terhadap potensi gempanya itu sendiri," ujarnya.

Baca juga: BMKG: Kajian gempa-tsunami harus direspons upaya mitigasi nyata

Menristek menuturkan wilayah Indonesia digolongkan sebagai sabuk api yang memang mempunyai potensi bencana baik kegempaan, gunung meletus, tsunami maupun hidrometeorologi, sehingga masyarakat harus memahami itu dan membangun kesiapsiagaan terhadap bencana.

Pembangunan di wilayah-wilayah di Indonesia juga harus memperhatikan risiko bencana untuk menghindari kerugian besar terkait nyawa maupun materi.

Baca juga: Disparbud Jabar susun langkah strategis terkait potensi tsunami

Sebelumnya, Tim Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meneliti tsunami purba di pantai Lebak, Pangandaran, Cilacap, Kutoarjo, Kulonprogo dan Pacitan.

Endapan tsunami berumur 300 tahun ditemukan di sepanjang pantai itu. Di Lebak, tsunami tersebut mengendapkan batang-batang kayu di suatu rawa 1,5 kilometer (km) dari garis pantai.

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto mengatakan gempa dan tsunami raksasa akan berulang di jalur-jalur tunjaman lempeng.

Baca juga: Menristek: Perkuat kesiapsiagaan hidup di negara rawan bencana

 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar