Satgas COVID-19 sasar pemengaruh untuk sosialisasi protokol kesehatan

id influencer,Satgas COVID-19,Turro Wongkaren,pandemi COVID-19, Pemengaruh,penanganan COVID-19

Pengamat media sosial dari Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria, dalam diskusi daring "Jadi Influencer di Era Masker", Minggu (13/9/2020). (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Turro Wongkaren mengatakan pihaknya sudah mulai menyasar para pemengaruh atau influencer untuk ikut menyosialisasikan protokol kesehatan guna mencegah penularan COVID-19.

"Istilah influencer, meskipun baru populer sekarang, sebenarnya kan sudah ada dari dulu dalam bentuk tokoh-tokoh dan pemimpin di masyarakat. Bagi masyarakat Indonesia, role model seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dan selebritas sangat berpengaruh," kata Turro dalam acara bincang-bincang Satgas Penanganan COVID-19 yang disiarkan akun Youtube BNPB Indonesia dari Gedung Graha BNPB, Jakarta, Kamis.

Baca juga: Anggota DPR tak masalah influencer untuk kepentingan negara

Baca juga: Pengamat medsos: Siapapun bisa jadi influencer protokol COVID-19


Turro mengatakan para pemengaruh di masyarakat itu tidak selalu dalam bentuk pemimpin formal, seperti kepala desa, lurah, camat, atau bupati. Bisa jadi para pemengaruh di masyarakat itu adalah ulama, kiai, pemimpin gereja, pemimpin adat, bahkan pengusaha yang berpengaruh di suatu daerah.

Terkait upaya mengubah perilaku masyarakat agar bisa menerima dan menjalankan protokol kesehatan pencegahan COVID-19, Turro mengatakan sangat memungkinkan dilakukan dengan menggandeng para pemengaruh tersebut. Yang terpenting adalah identifikasi siapa pemengaruh di suatu daerah atau komunitas.

"Pendekatan pertama yang perlu dilakukan dengan melihat masing-masing wilayah dan komunitas. Komunitas pun ada berbagai macam, ada komunitas adat, komunitas berdasarkan profesi dan kepentingan ekonomi, hingga komunitas berdasarkan hobi. Masing-masing memiliki karakter dan orang-orang penting yang bisa mempengaruhi," tuturnya.

Turro mengatakan masyarakat Indonesia sangat beragam, termasuk informasi yang mereka dapatkan tidak sama satu sama lain dengan penerimaan yang berbeda pula.

"Ada kelompok masyarakat yang mendapatkan informasi yang salah tentang COVID-19, ada pula yang mengira COVID-19 tidak akan menyerang mereka hanya menyerang orang-orang tertentu. Tugas kita adalah menyadarkan mereka bahwa COVID-19 tidak memandang bulu, siapa pun bisa terkena," katanya.

Baca juga: Kabaharkam minta gandeng influencer sosialisasi protokol kesehatan

Baca juga: Yosi "Project Pop" buka suara soal tudingan jadi ketua "influencer"


Menurut Turro, secara umum orang-orang yang meyakini tidak akan tertular COVID-19 adalah anak muda dan laki-laki yang menganggap dirinya masih muda, kuat, dan tidak terkena paparan COVID-19.

"Kita harus membuat strategi yang baik untuk menyasar mereka," ujarnya.

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar