IDI: Dokter spesialis bedah anak di Medan langka akibat COVID-19

id COVID-19,COVID-19 di Sumut,COVID-19 di Medan

dr Mahyono SpB SpBA. ANTARA/HO-IDI Medan

Medan (ANTARA) - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan dr Wijaya Juwarna Sp-THT-KL, Kamis mengatakan, jumlah dokter spesialis bedah anak di Kota Medan, Sumatera Utara kini menjadi langka.
 
Hal itu dikarenakan beberapa dokter spesialis bedah anak yang meninggal dunia akibat terpapar virus corona atau COVID-19.
 
"Hanya ada dua dokter spesialis bedah anak yang saat ini aktif," katanya tanpa menyebut detail jumlah dokter bedah anak yang meninggal dunia.
 
Untuk keseluruhan, kata Wijaya, sudah 14 dokter di Kota Medan yang meninggal akibat COVID-19. Di mana pada hari ini seorang dokter spesialis bedah anak bernama dr Mahyono SpB SpBA (64), meninggal dunia dengan status konfirmasi positif COVID-19.
 
"Dokter SpBA yang aktif di Medan tiga orang, tapi dengan berpulangnya beliau, berarti hanya ada dua saat ini yang aktif," katanya.

Baca juga: Seorang dokter spesialis bedah anak di Medan meninggal akibat COVID-19
 
Hal senada dikatakan Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19 Sumut dr Aris Yudhariansyah bahwa dengan meninggalnya dr Mahyono telah membuat dokter spesialis bedah anak menjadi langka.
 
"Selain itu, Sumut juga telah kehilangan seorang pejuang kemanusiaan. Dokter Mahyono ini juga merupakan Ketua Kesehatan Bermartabat Sumut, dan sudah banyak anak-anak tidak mampu yang dioperasinya, secara gratis," katanya.
 
Menurut Aris, calon dokter spesialis bedah anak di Medan memang jumlahnya banyak. Hanya saja, untuk menjadi spesialis bedah anak ini butuh waktu pendidikan yang sangat panjang, hingga sekitar 12 tahun.
 
"Spesialis ini investasinya lama. Untuk dokter umum bilang 6 tahun, spesialis bedah 5 tahun, ditambah bedah anak selama 2 tahun," jelasnya.

Baca juga: Dokter spesialis senior meninggal dunia positif COVID-19 di Aceh
Baca juga: Seorang dokter positif COVID-19 di Malang meninggal dunia
 

Pewarta : Nur Aprilliana Br. Sitorus
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar