Bambang Soesatyo ajak santri jaga persatuan dan kesatuan NKRI

id Ketua mpr, bambang soesatyo, bamsoet, mpr, mpr ri, hari santri, santri

Ketua MPR, Bambang Soesatyo. ANTARA/HO-Humas MPR

Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR, Bambang Soesatyo, mengajak kalangan santri terus menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seiring dengan peringatan Hari Santri.

"Penetapan Hari Santri patut disyukuri, sebagai rujukan bagi segenap anak bangsa untuk meneladani semangat nasionalisme dan komitmen kebangsaan para ulama dan santri," kata dia.

Hal itu dia sampaikan dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dengan tema "Dari Santri untuk Negeri; Kontribusi Santri dalam Menjawab Tantangan Kemajuan Zaman" bersama sivitas Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, secara virtual dari Bali, Selasa.

Ia menegaskan, kelahiran Keputusan Presiden Nomor 22/2015 tentang Penetapan Hari Santri Nasional adalah bentuk pengakuan pemerintah atas peran besar para ulama dan para santri dalam memperjuangkan, membela dan mempertahankan NKRI.

Tanggal 22 Oktober 1945 kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional adalah tonggak sejarah yang monumental, lanjut dia, para ulama dan santri meneguhkan komitmen kebangsaan melalui Resolusi Jihad yang mewajibkan setiap muslim mempertahankan NKRI dari serangan penjajah.

Baca juga: Ketua MPR apresiasi kinerja semua pihak tanggulangi pandemi COVID-19

"Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, cara terbaik mewujudkan rasa syukur adalah dengan memberikan kontribusi terbaik bagi terwujudnya cita-cita nasional, yaitu mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Agama, kata dia, hingga 2020 jumlah pesantren di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 28.194 pesantren dengan 5.000.000 santri mukim.

Jika dihitung secara keseluruhan, termasuk santri nonmukim serta santri pada taman-taman pendidikan Al-Qur’an dan madrasah maka jumlah total santri se-Indonesia mencapai sekitar 18 juta orang, dengan jumlah tenaga pengajar sekitar 1,5 juta orang.

"Melihat statistik di atas, jumlah santri di Indonesia cukup signifikan, apalagi mayoritas berada di usia produktif. Saat ini kita sedang menjejakkan kaki pada periode awal bonus demografi, di mana kelompok usia produktif mempunyai peran sentral dan signifikan dalam pembangunan nasional," kata dia.

Baca juga: Ketua MPR apresiasi langkah pemda cegah COVID-19

Ia mengakui, dalam bidang akademis hingga saat ini masih ada stigma di tengah masyarakat yang memposisikan santri sebagai simbolisasi kultur akademis yang tradisional dan ketinggalan zaman, padahal apabila dilihat faktanya tidaklah demikian karena ada juga santri yang berhasil menorehkan prestasi pada berbagai ajang perlombaan sains internasional.

"Ini setidaknya membuktikan tiga hal. Pertama, bahwa keterbatasan dukungan sarana dan prasarana pendidikan di sebagian besar pondok pesantren, tidak menjadi penghalang untuk melahirkan santri beprestasi. Kedua, bahwa sistem pendidikan yang diterapkan di pondok pesantren juga mempunyai daya saing global. Ketiga, meskipun sistem pendidikan di pesantren mengedepankan aspek keagamaan, namun tetap diimbangi dengan aspek-aspek akademis umum lainnya termasuk sains," kata dia.

Wakil ketua umum KADIN Indonesia itu menerangkan pada sektor perekonomian banyak lulusan santri yang berhasil di bidang kewirausahaan dan menjadi bagian dari penopang perekonomian nasional karena pemerintah juga terus berupaya menguatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda, termasuk para santri.

Baca juga: Ketua MPR minta generasi muda teladani perjuangan pendahulunya

"Program pemerintah One Pesantren One Product adalah wujud keberpihakan untuk mendorong kemandirian umat melalui para santri, pondok pesantren dan masyarakat sekitar," kata dia.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila itu menambahkan potensi sumber daya santri sebagai aset pembangunan dapat dirujuk pada kualitas sumber daya santri karena kehidupan di pondok pesantren mendekatkan santri pada aspek religiusitas, dengan pendidikan etika dan moralitas yang menjadi bagian dari kehidupan keseharian santri.

"Selama bertahun-tahun mengikuti pendidikan di lingkungan pondok pesantren, para santri senantiasa ditempa menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter kuat. Inilah kata kunci dalam pembangunan sumberdaya manusia untuk mewujudkan Indonesia Maju, bahwa yang kita butuhkan adalah sumber daya manusia yang berkarakter kuat sehingga mampu menjawab tantangan zaman," kata dia.

Baca juga: MPR minta pemerintah terus perjuangkan isu-isu penting di sidang PBB

Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar