Ekonomi RI kontraksi 3,49 persen, pengamat nilai masih dalam

id badan pusat statistik, pertumbuhan ekonomi, ekonomi RI, resesi ekonomi, BPS resesi ekonomi, resesi

Ekonomi RI kontraksi 3,49 persen, pengamat nilai masih dalam

Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal di Jakarta, Rabu (20/11/2019). ANTARA/Dewa Wiguna.

Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai kontraksi ekonomi RI kuartal III-2020 yang mencapai 3,49 persen masih cukup dalam, padahal pada periode itu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah dilonggarkan.

“Saya tadinya berpikir kontraksi tidak sedalam itu walaupun sudah lebih baik dari kuartal II, tapi kuartal II anjlok karena pengetatan,” kata Mohammad Faisal dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, realisasi pertumbuhan itu perlu menjadi catatan karena pengetatan dalam PSBB yang direlaksasi namun ekonomi belum bisa mengalami perubahan cukup besar.

“Artinya potensi ke depan bisa jadi dalam beberapa kuartal, kita masih akan mengalami pertumbuhan yang kontraksi,” imbuhnya.

Ia menambahkan agar terjadi pertumbuhan ekonomi pada capaian positif, ekonomi harus digerakkan oleh konsumsi khususnya kalangan menengah ke atas yang dinilai masih menahan pengeluaran.

Untuk itu, lanjut dia, pekerjaan rumah besar yang harus ditanggulangi adalah menangani pandemi karena selama ada peningkatan kasus COVID-19, konsumsi masyarakat ekonomi menengah ke atas akan tetap tertahan atau menunda belanja.

Sementara itu, terkait realisasi belanja Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), kata dia, ditujukan untuk memberikan daya tahan kepada masyarakat terdampak bukan untuk membuat pertumbuhan ekonomi positif.

“PEN bukan untuk membuat pertumbuhan ekonomi positif. Itu supaya tidak anjlok lebih dalam, yang miskin dan pengangguran tidak bertambah tapi untuk mendorong ekonomi positif itu ekonomi mesti bergerak, digerakkan konsumsi, khususnya menengah ke atas,” imbuhnya.

Sebelumnya Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan perekonomian Indonesia pada triwulan III-2020 mengalami kontraksi 3,49 persen (yoy).

Dengan demikian, Indonesia resmi mengalami resesi seperti yang sudah dialami berbagai negara yang terdampak COVID-19, karena selama dua triwulan berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif.

BPS mencatat terjadi kontraksi dalam perekonomian Indonesia pada triwulan II-2020 yakni 5,32 persen pada triwulan II-2020 karena pandemi COVID-19 telah membatasi aktivitas ekonomi.

Baca juga: Kemenparekraf optimalkan pariwisata domestik saat kontraksi ekonomi
Baca juga: Sri Mulyani: Krisis COVID-19 jadi kesempatan perkuat fondasi negara
Baca juga: Sri Mulyani: Maksimalkan penggunaan APBN untuk respons dampak pandemi


Pewarta : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar