Delapan pos pantau antisipasi bencana disiapkan di pesisir Surabaya

id pos pantau,pesisir surabaya,risma,wali kota surabaya,antisipasi bencana,pemkot surabaya

Delapan pos pantau antisipasi bencana disiapkan di pesisir Surabaya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya.

Surabaya (ANTARA) - Pemerintah Kota Surabaya, Jatim, menyiapkan delapan pos pantau di kawasan pesisir guna mengantisipasi bencana alam seperti gelombang air pasang yang terjadi di Bulak Cumpat, Kota Surabaya, beberapa hari lalu.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Surabaya, Sabtu, mengatakan pihaknya sudah menyiapkan delapan pos pantau di pesisir Surabaya yakni Rumah Pompa Balong, Rusun Romokalisari, Sentra Ikan Bulak, Eks Rumah Pompa Wonorejo II, SMPN 30 Medokan Semampir, Kecamatan Gunung Anyar, Kelurahan Sumberejo, dan Kelurahan Karang Pilang.

"Jadi kita ada delapan posko yang ada di tepi pantai. Tapi di pos-pos kita punya kurang lebih 30 posko di dalam kota dan ada pula posko yang terletak di kecamatan serta kelurahan," katanya.

Baca juga: Risma pesan kepada Eri-Armuji makin sejahterakan warga

Menurut Risma, pihaknya telah melakukan simulasi di delapan posko tersebut. "Untuk mekanismenya, nanti akan ada laporan. Petugas sudah dibekali HT. Kemudian setelah laporan itu masuk, misalnya dari masyarakat merekalah yang gerak cepat," katanya.

Risma mengimbau agar saat terjadi sesuatu, masyarakat diminta mengikuti apa yang sudah diberikan saat pelatihan khususnya bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir. Ia menegaskan, sebetulnya pelatihan itu sudah pernah dilakukan.

"Tapi kita ulang lagi supaya tidak lupa," ujarnya.

Baca juga: Surabaya siapkan lima lapangan latihan FIFA untuk Piala Dunia U-20

Selain itu, Risma mengingatkan petugas di lapangan agar saling mengingatkan baik di kalangan teman sesama petugas maupun warga untuk tidak berteduh di bawah pohon serta memegang tiang listrik dan tiang penerangan jalan umum (PJU).

"Kita juga harus selalu mengingatkan warga yang ada di tepi sungai untuk tidak berada di sungai ataupun mandi di sungai, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi saat itu. Kita harus selalu mengingatkan warga terutama anak-anak," ujarnya.

Risma menjelaskan bahwa warga yang ada di pesisir pantai atau para nelayan, mungkin dalam satu pekan ini terasa berat karena tidak bisa berlayar akibat ombaknya yang cukup tinggi dan gelombangnya cukup tinggi pula.

"Saya juga sudah ingatkan untuk tidak berlayar dulu sementara waktu," ujarnya.

Baca juga: Hari Pahlawan Walikota Surabaya beri penghargaan kepada BIN

Pewarta : Abdul Hakim
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar